Bantu Korban Gempa NTT, Undip Kerahkan Relawan Lintas Keahlian ke Flores

  • 21 Agt 2026 07:39 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Universitas Diponegoro (Undip) mengirimkan relawan lintas fakultas ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu penanganan dampak gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Tim Diponegoro Disaster Assistance Response Team (D-DART) akan melakukan kaji cepat sekaligus memberikan dukungan medis, psikososial, logistik, dan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak.

Tim D-DART diberangkatkan dari Hall Gedung Widya Puraya, Kampus Undip Tembalang, Rabu, 19 Agustus 2026. oleh Rektor Undip Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. Pelepasan turut dihadiri jajaran pimpinan Undip, pengurus LPPM, Ketua D-DART, relawan, serta Ketua BEM Undip.

Sebelum berangkat, para relawan mendapat pengarahan terkait koordinasi, pembagian tugas, kesiapan di lapangan, serta pola komunikasi dengan jejaring penanganan bencana di wilayah tujuan. Persiapan tersebut dilakukan untuk memastikan bantuan dapat disalurkan sesuai kebutuhan masyarakat terdampak.

Rektor Undip Prof. Suharnomo mengatakan, keberangkatan D-DART merupakan bentuk kepedulian civitas academica Undip kepada masyarakat NTT yang sedang menghadapi situasi sulit. Menurutnya, bantuan yang diberikan tidak hanya berupa tenaga medis, tetapi juga melibatkan berbagai keahlian sesuai kebutuhan di lapangan.

“Hari ini kami melepas Tim Darurat Bencana Undip untuk membantu saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur. Ada dokter, tenaga kesehatan, tim psikologi, dan unsur lain yang akan bekerja bersama. Tim ini juga akan disusul oleh relawan berikutnya sesuai kebutuhan di lapangan,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Kamis, 20 Agustus 2026.

Prof. Suharnomo berharap kehadiran para relawan dapat memberikan dukungan nyata sekaligus menguatkan masyarakat yang tengah menjalani masa pemulihan. Undip juga berkomitmen mengirimkan relawan tambahan secara bertahap sesuai perkembangan kebutuhan di lokasi terdampak.

“Semoga simpati dan tanda cinta dari Universitas Diponegoro ini dapat dirasakan oleh saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur. Kami hadir dengan kemampuan yang kami miliki, tetapi dengan kepedulian sepenuhnya,” kata Prof. Suharnomo.

Pada tahap awal, sebanyak 5 hingga 8 personel disiapkan dari sejumlah fakultas, yakni Fakultas Kedokteran, Fakultas Psikologi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, serta Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Mereka membawa sejumlah misi, mulai dari kaji cepat kebutuhan masyarakat hingga penguatan jejaring dengan BPBD NTT, Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) NTT, serta alumni Undip.

Selain melakukan asesmen, tim juga akan memberikan asistensi psikososial, dukungan logistik kebutuhan dasar, serta bantuan obat-obatan. Keterlibatan relawan dari berbagai bidang diharapkan dapat membuat penanganan pascabencana lebih menyeluruh.

Perjalanan D-DART disusun dengan mempertimbangkan kondisi wilayah kepulauan Flores dan kebutuhan di sejumlah titik terdampak. Kupang menjadi lokasi awal untuk berkoordinasi dengan posko utama dan pemerintah setempat, sebelum tim bergerak menuju Nagekeo, Maumere, dan Manggarai.

Wakil Rektor IV Undip Wijayanto mengatakan, aksi kemanusiaan tersebut berawal dari gerakan bersama seluruh elemen kampus, termasuk mahasiswa yang turut menggalang kepedulian. Kondisi geografis wilayah kepulauan menjadi salah satu pertimbangan dalam mempersiapkan pemberangkatan relawan.

“Kami bergerak cepat merespon musibah ini melalui penggalangan bantuan dan pengiriman tenaga ahli, mulai dari dokter, perawat, hingga tim pendampingan psikososial. Menghadapi medan kepulauan yang penuh tantangan, persiapan matang kami lakukan agar kehadiran D-DART di NTT benar-benar memberi manfaat nyata,” ungkap Wijayanto.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat LPPM Undip Prof. Achmad Zulfa Juniarto menjelaskan, pengiriman relawan akan dilakukan secara bergelombang dengan mempertimbangkan kebutuhan lapangan serta ketersediaan transportasi menuju wilayah terdampak. Undip telah menyiapkan sekitar 15 hingga 20 relawan yang dapat diberangkatkan secara bertahap.

Pada fase awal, personel yang memiliki kemampuan surveilans dan tanggap darurat, terutama dari unsur medis, menjadi prioritas untuk membaca kondisi lapangan dan menentukan bentuk intervensi selanjutnya. Tim juga menyiapkan tenda, bahan makanan, obat-obatan, serta perlengkapan dasar untuk mendukung aktivitas relawan dan masyarakat terdampak.

Menurut Prof. Zulfa, penanganan pascagempa membutuhkan kesiapan dalam jangka waktu yang tidak singkat. Potensi gempa susulan, luasnya wilayah terdampak, serta keterbatasan penerbangan dan jadwal kapal feri menjadi sejumlah faktor yang harus diperhitungkan sebelum mengirimkan personel tambahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....