Yayasan Kresna Patra Buka Akses Pendidikan dan Ketenagakerjaan Disabilitas
- 18 Agt 2026 09:01 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas di sektor pendidikan dan ketenagakerjaan masih menjadi tantangan mendasar di daerah, termasuk di Kabupaten Boyolali. Untuk menjawab tantangan tersebut Yayasan Kresna Patra hadir, melalui program pelatihan vokasi dan pendidikan inklusi bagi yang membutuhkan.
Hal tersebut disampaikan Ketua Forum Komunikasi Difabel Boyolali sekaligus Ketua Kresna Patra, Sri Setyaningsih, dalam dialog Mangun Projo, Rabu 5 Agustus 2026. Disiarkan Pro 4 RRI Semarang melalui FM 88,2 Mhz, M 801 Khz dan aplikasi RRI Digital Mangun Projo hadir setiap hari mulai 09.00-10.00 wib.
"Kresna Patra berdiri dari tahun 2021 yang sudah kami latih sekitar 700 disabilitas dan yang sudah kami tempatkan itu ada kurang lebih 170 disabilitas menjadi tenaga kerja di perusahaan sebagai karyawan tetap". “Selain itu kami juga ada PKBM Inklusi Yaitu PKBM Dwija Praja Amarta, untuk mengenalkan pendidikan”, ujar Sri Setyaningsih melalui sambungan telepon.
Untuk menunjang kesiapan kerja, lembaga ini memfasilitasi ragam pelatihan keterampilan yang disesuaikan dengan asesmen awal individual. Program yang ditawarkan mencakup keterampilan menjahit, tata boga, digital marketing, pemanfaatan limbah perca, hingga pengoperasian komputer.
Sri menambahkan aksesibilitas fisik dan fasilitas pendidikan di daerah masih menjadi kendala utama bagi kelompok difabel. Banyak sekolah umum yang belum menerapkan prinsip bangunan ramah disabilitas, seperti ketersediaan jalur ramp atau pegangan di kamar mandi.
Hal ini diperparah oleh terbatasnya ketersediaan sarana pendukung khusus di sekolah-sekolah umum. Tantangan di ruang kelas tidak berhenti pada aspek fisik, melainkan juga sarana pembelajaran dan pemahaman tenaga pendidik.
"Terbatasnya guru yang memahami apa itu inklusi dan apa itu disabilitas dan siapa itu disabilitas”. “Selain itu juga masih terbatasnya alat pendukun pembelajaran seperti misalnya buku Braille" .
Selain faktor fasilitas, stigma sosial dari lingkungan sekitar dan pihak keluarga masih menjadi hambatan psikologis bagi anak-anak difabel untuk mengenyam pendidikan. Tidak jarang orang tua merasa ragu untuk menyekolahkan anaknya karena anggapan stereotip bahwa penyandang disabilitas tidak memiliki masa depan mandiri.
Menutup perbincangan Sri mengingatkan pentingya pendidikan untuk semua pihak termasuk untuk teman disabilitas. Pihaknya juga membuka peluang untuk kolaborasi untuk semua pihak yang ingin bekerja sama memajukan sekolah inklusi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....