Ironis Kisah di balik Habis Gelap Terbitlah Terang.
- 07 Agt 2026 02:02 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Saat kita menjumpai kalimat itu, ingatan kita langsung tertuju pada sosok perempuan hebat. Karena jasa-jasanya, rakyat Indonesia kian mengenal berbagai pola pikir yang belum pernah ada sebelumnya.
R.A Kartini wanita hebat yang memperjuangkan agar perempuan Indonesia memiliki kebebasan. Kebebasan menuntut ilmu dan memiliki kesetaraan hak dengan laki-laki.
Di era kini ada banyak perempuan hebat yang bisa bekerja di berbagai industri, bahkan banyak juga yang memegang posisi penting. Semua tidak lepas berkat kegigihan dan pandangan Kartini tentang emansipasi, supaya perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki.
Raden Ajeng Kartini atau R.A Kartini, adalah seorang perempuan asal Jepara yang lahir pada 21 April 1879. Kartini merupakan keturunan bangsawan, oleh karena itu gelar Raden Adjeng disematkan kepadanya.
Kartini merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat bupati Jepara saat itu dan Mas Ayu Ngasirah. Ia adalah anak ke lima dari sebelas bersaudara.
Berbeda dengan kebanyakan anak pribumi saat itu, Kartini berkesempatan untuk sekolah di Europeesche Lagere School (ELS). Ini merupakan sekolah yang diperuntukkan bagi orang Belanda dan orang Jawa yang kaya.
Di ELS, Kartini belajar bahasa Belanda, hanya saja Kartini bersekolah sampai usia 12 tahun, karena sudah memasuki masa pingitan. Zaman itu berlaku sebuah tradisi, ketika pada usia tertentu, wanita Jawa harus dipingit dan tinggal di rumah.
Karena belajar bahasa Belanda di ESL, R.A Kartini bisa membaca dan menulis bahasa Belanda. Selama dipingit, ia belajar sendiri membuat dan berkirim surat dengan teman-temannya dari Belanda, salah satunya adalah Rosa Abendanon.
Kartini gemar membaca banyak buku, surat kabar, dan majalah Eropa. Seperti istilah ‘buku adalah jendela dunia’, Kartini jadi tahu cara berpikir perempuan Eropa yang lebih maju dan bebas kala itu.
Dari banyaknya membaca, membuatnya berpikir untuk memajukan perempuan pribumi. Karena di masa itu, perempuan pribumi tertinggal jauh dan memiliki status atau stratifikasi sosial yang rendah.
Menurutnya, perempuan pribumi harus mendapatkan kesetaraan, persamaan, dan kebebasan. Karena sedang dipingit, tidak banyak yang bisa dilakukan Kartini.
Namun, surat-surat yang ditulisnya menjadi salah satu bentuk perjuangan. Ia menuliskan terkait gagasan-gagasannya baru mengenai emansipasi perempuan
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....