Nasib Gelandangan Setelah Terjaring Razia, Begini Tahapan Rehabilitasinya
- 16 Jul 2026 10:46 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Pengemis dan gelandangan yang terjaring razia ternyata tidak serta-merta dipulangkan. Mereka terlebih dahulu menjalani rehabilitasi sosial di panti pelayanan, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar, pembinaan mental, hingga pelatihan keterampilan sebagai bekal untuk kembali hidup mandiri di masyarakat.
Salah satu lembaga yang menangani proses tersebut adalah Panti Pelayanan Sosial Pengemis, Gelandangan, dan Orang Terlantar (PGOT) Mardi Utomo Semarang. Panti ini memberikan layanan rehabilitasi secara menyeluruh bagi para penerima manfaat agar mampu kembali menjalani kehidupan yang lebih produktif.
Kepala Panti Pelayanan Sosial PGOT Mardi Utomo Semarang, Budi Santoso, mengatakan rehabilitasi diawali dengan proses penerimaan, asesmen, hingga pemenuhan kebutuhan dasar. Selanjutnya, penerima manfaat mendapat pembinaan mental, sosial, spiritual, dan pelatihan keterampilan.
"Layanan yang kami berikan bersifat menyeluruh, mulai dari penerimaan, identifikasi, asesmen kebutuhan, pemenuhan kebutuhan dasar hingga pembinaan mental, sosial, spiritual, dan pengembangan keterampilan agar penerima manfaat siap kembali diterima di masyarakat," ujarnya dalam dialog di RRI Semarang, Selasa, 14 Juli 2026.
Menurut Budi, latar belakang para penerima manfaat sangat beragam. Selain faktor kemiskinan dan pengangguran, banyak di antaranya menghadapi persoalan keluarga, penelantaran, gangguan kesehatan, rendahnya pendidikan, hingga penyalahgunaan zat.
Untuk mempersiapkan mereka kembali ke masyarakat, panti menyediakan berbagai pelatihan sesuai minat dan potensi masing-masing. Keterampilan yang diajarkan meliputi tata boga, kerajinan tangan, servis elektronik ringan, pertanian, perikanan, pengelolaan kebersihan lingkungan, pengelasan, hingga bengkel.
Budi menjelaskan, keberhasilan rehabilitasi tidak hanya diukur dari lamanya mengikuti pembinaan. Penilaian juga dilakukan terhadap perkembangan fisik, mental, sosial, dan kemampuan peserta menguasai keterampilan yang diberikan.
"Harapannya ketika mereka kembali ke masyarakat sudah memiliki bekal keterampilan. Dapat dikembangkan untuk bekerja maupun membuka usaha secara mandiri," katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan rehabilitasi membutuhkan dukungan banyak pihak. Keluarga, masyarakat, dunia usaha, organisasi sosial, hingga pemerintah memiliki peran penting agar para penerima manfaat dapat diterima kembali dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
"Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat mau menerima mereka kembali. Memanusiakan penerima manfaat akan membangun rasa percaya diri sehingga mereka mampu kembali hidup mandiri," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....