Cuan Pupuk Organik Petani Milenial
- 01 Jun 2026 10:25 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Bagi sebagian besar anak muda di desa, merantau ke kota sering kali dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Namun, paradigma ini berhasil dipatahkan oleh Al Muhiman, Ketua KUB Cahaya Tani.
Seorang pemuda yang memilih pulang kampung untuk membangun tanah kelahirannya. Ia memulai perjalanannya sejak usia 20 tahun setelah melihat melimpahnya limbah kotoran sapi milik peternak lokal.
Bukannya menghindar, Al justru melihat tumpukan limbah tersebut sebagai sebuah peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Bersama kelompok tani setempat, ia membuat inovasi dengan mengolah kotoran sapi menjadi pupuk kompos berkualitas.
Menjadi petani muda penuh tantangan karena adanya stigma kuno, kotor, dan lambat menghasilkan uang. Tantangan ini dihadapi Al saat memulai, hingga tetangga heran ia tidak memilih kerja kantoran.
Melalui gerakan Petani Milenial, ia berkomitmen membuktikan bahwa sektor agraria bisa dikelola secara modern. Prinsip kelompok tani Al adalah bertani semurah-murahnya dengan energi terbarukan demi panen sebanyak-banyaknya.
Pemanfaatan pupuk organik memberikan keuntungan ganda yang menjanjikan, baik bagi peternak maupun petani. Bagi peternak, limbah olahan memberi nilai tambah, sedangkan bagi petani, pupuk organik menghemat biaya operasional.
Kunci sukses gerakan ini terletak pada manajemen tim yang inklusif melalui kolaborasi lintas generasi. Kelompok tani berhasil menyatukan energi kreatif anak muda dengan pengalaman matang petani di atas 50 tahun.
Untuk menjaga semangat anggotanya, Al rutin mengadakan studi banding langsung ke lahan sukses. Ia jeli melihat potensi anggota dengan memanfaatkan kedekatan anak muda terhadap teknologi media sosial.
Anak muda bidang digital ditempatkan khusus untuk mengelola pemasaran, branding, dan pasar daring (marketplace). Strategi ini terbukti jitu karena perluasan pasar luar kota merupakan dampak langsung promosi digital.
Al menekankan bahwa dukungan terbesar bagi anak muda adalah pendampingan yang berkelanjutan. Pelatihan yang hanya diadakan sekali lalu dilepas dinilai tidak akan efektif bagi petani lapangan.
Sinergi berupa monitoring berkala dengan penyuluh pertanian menjadi kunci sukses bisnis ini tetap bertahan. Kini, lini bisnis ramah lingkungannya sedang melakukan ekspansi besar-besaran demi memenuhi permintaan pasar.
Mereka mulai mengembangkan variasi pupuk baru dari kotoran ayam, burung puyuh, kambing, hingga cair. Langkah ini diambil karena tanah pertanian saat ini sangat membutuhkan asupan bahan organik berkelanjutan.
Al berharap generasi muda, baik milenial maupun Gen Z, tidak ragu terlibat pertanian. Meskipun tidak terjun ke lahan, anak muda bisa berperan penting dalam rantai pemasaran inovasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....