Menabung Setahun, Dosen USM Rutin Berkurban 10 Kambing

  • 29 Mei 2026 10:45 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Menabung selama setahun menjadi cara yang dilakukan dosen Universitas Semarang (USM), Dr. Kukuh Sudarmanto Alugoro, MH, MM, untuk rutin berkurban pada Iduladha. Tahun ini, ia bersama keluarga menyalurkan 10 ekor kambing kurban pada Iduladha 1447 Hijriah.

Penyembelihan hewan kurban dilakukan di Masjid Baitur Rasyid USM, Rabu, 27 Mei 2026. Pada momen Iduladha tahun ini, masjid kampus tersebut juga menyembelih empat ekor sapi dan 17 kambing.

Dr. Kukuh yang juga menjadi takmir Masjid Baitur Rasyid USM mengatakan, kurban dilakukan rutin setiap tahun sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Selain itu, ibadah kurban juga menjadi wujud empati kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Kami melaksanakan kurban setiap tahun sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Selain itu juga sebagai syiar agama dan rasa empati kepada warga yang membutuhkan. Kami lakukan ini dengan cara menabung secara disiplin dan istiqamah selama satu tahun,” katanya.

Menurutnya, kurban kambing tidak sekadar bermakna penyembelihan hewan pada Hari Raya Iduladha. Di dalamnya terdapat nilai syariat, sosial, dan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.

Dr. Kukuh menjelaskan, kurban atau udhiyah memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Ibadah tersebut hukumnya sunnah muakkadah menurut mayoritas ulama, sementara mazhab Hanafi mewajibkannya bagi yang mampu.

“Dalil utama adalah QS Al Kautsar ayat 2, maka shalatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah kurban. Dari hadis HR Muslim menjelaskan bahwa tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih kurban,” ujarnya.

Ia menambahkan, kambing termasuk hewan ternak yang diperbolehkan untuk kurban selain domba, sapi, dan unta. Satu ekor kambing diperuntukkan bagi satu orang, sedangkan satu sapi dapat untuk tujuh orang.

Menurutnya, masyarakat Indonesia juga memiliki tradisi unik dalam pelaksanaan kurban. Di Jawa misalnya, terdapat tradisi “ngeblek” yakni kambing dibawa berkeliling kampung sebelum disembelih.

“Di Jawa, ada tradisi yang unik ketika kurban yang disebut ‘ngeblek’ yaitu kambing kurban dibawa keliling kampung sebelum disembelih. Hal ini dimaksudkan agar warga mengetahui siapa yang kurban. Sedangkan di Minang daging kurban dibagi pakai sistem nagari,” ujarnya.

Dr. Kukuh menilai masyarakat kini semakin memahami kurban sebagai bentuk berbagi dengan sesama. Semangat tersebut dinilai mampu memperkuat kepedulian sosial dan kebersamaan di tengah masyarakat.

“Di hari yang penuh berkah, yakni Idul Adha, tidak setiap orang memiliki kelapangan untuk makanan di hari itu. Dengan ibadah kurban dan anjuran membagikannya kepada sekitar akan semakin menambah rasa cinta di hati sesama muslim,” ungkapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....