Tarik Investor, Gubernur Jateng Dorong Penerbitan HGB di Kawasan Industri Batang

  • 15 Apr 2026 14:06 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendorong percepatan penerbitan Hak Guna Bangunan (HGB) di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB). Langkah ini dilakukan guna memastikan iklim investasi di kawasan tersebut tetap berjalan lancar dan kondusif.

Upaya tersebut ditempuh melalui koordinasi intensif dengan pemerintah pusat dan pengelola kawasan industri. Luthfi menegaskan, kewenangan penerbitan HGB berada pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Badan Pertanahan Nasional di daerah diminta aktif menjalin komunikasi dengan kementerian terkait. Koordinasi tersebut penting untuk memastikan kejelasan dasar hukum dalam penerbitan HGB.

"Kepastian hukum daripada pertanahan untuk menarik investasi di suatu wilayah diperlukan ada notaris. Banyak juga konflik agraria, batas lahan, dan sebagainya yang perlu adanya kepastian hukum yang jelas," kata Luthfi usai menghadiri acara Halalbihalal dan Reuni Ikatan Alumni Kenotariatan Universitas Diponegoro di Semarang, Rabu, 15 April 2026.

Dalam kesempatan itu, Luthfi juga mengajak para notaris untuk berkolaborasi dalam pembangunan daerah. Peran notaris dinilai krusial dalam memberikan kepastian hukum, terkait pendirian usaha, pertanahan hingga meliterasi ke masyarakat.

Menurutnya, kepastian hukum menjadi faktor utama dalam menarik investasi ke suatu wilayah. Berbagai persoalan seperti konflik agraria dan batas lahan membutuhkan kejelasan hukum yang kuat.

Sebelumnya, pemerintah pusat telah membahas persoalan HGB di KITB melalui rapat lintas kementerian dan lembaga. Dalam jangka pendek, pemerintah akan mendorong percepatan penerbitan HGB sesuai ketentuan yang berlaku.

Untuk diketahui, sepanjang 2025 realisasi investasi di Jawa Tengah menorehkan realisasi tertinhhi dalam satu dekade mencapai Rp88,5 triliun. Adapun, progres investasi di KITB telah mencapai hampir Rp22 triliun dalam tiga tahun terakhir dan ditargetkan menembus Rp70 triliun hingga 2030.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....