Lima Hari Terendam Banjir, Warga Pasirsari Desak Perbaikan Tanggul Sungai Bremi

  • 30 Mar 2026 04:09 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Tanggul sungai Bremi jebol
  • Empat wilayah banjir

RRI.CO.ID, Pekalongan – Permukiman warga di wilayah Kota dan Kabupaten Pekalongan masih terendam banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Bremi sejak Rabu 25 Maret 2026 lalu. Hingga Senin 30 Maret 2026 warga di empat wilayah terdampak mengeluhkan lambatnya penanganan serius dari pemerintah otoritas terkait karena tanggul hanya ditangani secara darurat.

Lima hari sudah air menggenangi rumah-rumah warga pasca jebolnya tanggul sungai tersebut. Peristiwa ini mengakibatkan sedikitnya empat wilayah, yakni Pasirsari di Kota Pekalongan, serta Karangjompo, Tegaldowo, dan Mulyorejo di Kabupaten Pekalongan terendam banjir yang menyebabkan aktivitas ekonomi maupun harian warga lumpuh total.

Warga Pasirsari, Sodikin, menyampaikan hingga saat ini warga masih berupaya menutup celah tanggul yang jebol dengan menggunakan alat seadanya. Secara swadaya, mereka bahu-membahu memanfaatkan bambu, karung berisi tanah, serta material sederhana lainnya untuk menahan laju aliran air sungai agar tidak semakin deras masuk ke permukiman.

"Akibat jebolnya tanggul tersebut, sejumlah wilayah terdampak banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar 50 sentimeter. Wilayah yang terendam meliputi Kelurahan Pasir Kraton Kramat, Desa Karangjompo, Tegaldowo, dan Mulyorejo," terangnya.

Sodikin menambahkan bahwa warga sangat menyayangkan lambatnya respons penanganan permanen dari pihak pemerintah. Ia menyebut kondisi tanggul yang jebol sejak Rabu tersebut berdampak pada semakin tingginya genangan air di rumah-rumah warga, namun hingga kini belum ada tindakan teknis yang maksimal di lapangan.

Padahal sebelumnya kondisi tersebut telah ditinjau langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid, serta Plt Bupati Pekalongan Sukirman. “Sudah berhari-hari seperti ini, tapi penanganannya belum terlihat maksimal,” keluhnya.

Selain merusak rumah dan perabotan, genangan air juga mulai menimbulkan kekhawatiran akan kesehatan warga. Air yang menggenang mulai berbau dan berpotensi memicu penyakit kulit serta infeksi. Keluhan juga datang dari warga lain yang berharap adanya penanganan konkret dari pemerintah, bukan sekadar peninjauan lapangan.

Hal senada disampaikan Hidayah, warga terdampak lainnya. Ia mengungkapkan hingga kini bantuan logistik belum diterima, padahal kondisi di dalam rumah sudah tergenang air setinggi betis. Genangan air yang belum surut membuat aktivitas warga terganggu.

“Untuk bantuan makanan belum ada, padahal air di dalam rumah kami sudah setinggi betis,” katanya.

Untuk meminimalisir dampak banjir, warga bahu-membahu mengisi karung pasir dan memperkuat tanggul darurat. Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat dan serius dalam memperbaiki tanggul secara permanen serta menyediakan sistem pengendalian banjir yang memadai, agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim hujan tiba.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....