Hari Raya Nyepi, Tradisi Hening Tahun Baru Saka

  • 17 Mar 2026 22:00 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Hari Raya Nyepi merupakan hari suci umat Hindu yang diperingati sebagai pergantian Tahun Baru Saka setiap tahunnya. Perayaan ini dikenal dengan suasana sunyi karena umat Hindu menjalankan berbagai pantangan untuk melakukan refleksi spiritual.

Kata “Nyepi” berasal dari kata sepi yang berarti sunyi, hening, dan jauh dari keramaian aktivitas duniawi. Oleh karena itu, perayaan Tahun Baru Saka berbeda dengan tahun baru lain yang biasanya dirayakan meriah.

Hari Raya Nyepi berkaitan erat dengan kalender Saka yang mulai digunakan sejak tahun 78 Masehi dalam sejarah. Kalender ini berasal dari India kuno dan berkembang serta digunakan oleh umat Hindu di Indonesia hingga kini.

Sejarahnya berkaitan dengan masa konflik berbagai bangsa di India yang sering terjadi perebutan wilayah dan kekuasaan. Konflik tersebut akhirnya mereda setelah Raja Kaniskha dari bangsa Saka berhasil menciptakan kedamaian antarbangsa yang bertikai.

Di Indonesia, Hari Raya Nyepi ditetapkan sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 1983. Penetapan tersebut menegaskan bahwa Nyepi merupakan perayaan penting bagi umat Hindu di Indonesia.

Tujuan utama perayaan Nyepi adalah memohon penyucian diri manusia serta alam semesta kepada Tuhan Yang Maha Esa. Umat Hindu melakukan introspeksi diri untuk menenangkan pikiran dan memperbaiki hubungan dengan sesama dan lingkungan.

Dalam perayaannya, umat Hindu menjalankan aturan yang disebut Catur Brata Penyepian selama dua puluh empat jam penuh. Aturan tersebut meliputi tidak menyalakan api, tidak bepergian, tidak bekerja, dan tidak melakukan hiburan atau kesenangan.

Sebelum Nyepi dilaksanakan, terdapat beberapa rangkaian upacara seperti Melasti, Tawur Kesanga, dan Pengerupukan yang dilakukan masyarakat. Rangkaian ritual ini bertujuan untuk menyucikan alam dan manusia serta mengusir unsur negative dari lingkungan kehidupan.

Setelah masa penyepian selesai, umat Hindu merayakan Ngembak Geni sebagai tanda berakhirnya Hari Raya Nyepi. Pada tahap ini, masyarakat kembali beraktivitas sambil saling bermaafan dan mempererat hubungan persaudaraan antar sesama. (cel)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....