Jejak Sejarah dan Makna Sungkeman di Hari Kemenangan

  • 28 Feb 2026 13:47 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Sungkeman telah menjadi ritual yang tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di Indonesia, khususnya bagi masyarakat bersuku Jawa. Tradisi ini dilakukan dengan cara seorang yang lebih muda bersimpuh dan mencium tangan orang yang lebih tua.

Secara harfiah, kata "sungkem" berasal dari bahasa Jawa yang berarti sujud atau tanda hormat. Ritual ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah manifestasi fisik dari kerendahan hati dan permohonan maaf yang mendalam.

Secara historis, akar tradisi sungkeman diyakini bermula dari kebudayaan keraton di Jawa. Sejak masa kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam seperti Mataram, sungkeman merupakan protokol resmi yang dilakukan oleh para bawahan atau keluarga kerajaan kepada raja sebagai bentuk loyalitas dan penghormatan.

Seiring berjalannya waktu, nilai-nilai aristokrat ini diserap oleh masyarakat umum dan diadaptasi ke dalam lingkup keluarga kecil sebagai cara untuk mempererat ikatan batin antara anak dan orang tua. Unsur akulturasi budaya sangat kental dalam praktik sungkeman.

Meskipun Idulfitri adalah hari besar agama Islam yang berasal dari tanah Arab, cara merayakannya di nusantara mendapat pengaruh kuat dari tradisi lokal. Di masa lampau, para ulama dan tokoh agama di Jawa menggunakan metode pendekatan budaya ini untuk menyebarkan ajaran Islam tanpa menghilangkan identitas lokal.

Akibatnya, sungkeman menjadi simbol harmonis antara ajaran agama tentang bakti kepada orang tua dengan adat istiadat leluhur. Peran KGPAA Mangkunegara I (Pangeran Sambernyawa) juga sering disebut dalam sejarah populernya tradisi ini.

Konon untuk menghemat waktu dan menyatukan rakyatnya setelah perang, beliau mengadakan pertemuan massal di mana semua orang melakukan sungkem secara serentak. Inilah yang kemudian berkembang menjadi konsep "Open House" atau silaturahmi massal yang kita kenal sekarang.

Sungkeman kini bergeser dari sekadar penghormatan hierarkis menjadi momen rekonsiliasi emosional bagi masyarakat luas. Secara filosofis sungkeman mengandung makna spiritual yang sangat dalam, gerakan bersimpuh melambangkan pengakuan bahwa setiap manusia memiliki kesalahan dan kekhilafan.

Di sisi lain, orang tua yang menyambut sungkem dengan elusan kepala atau doa menunjukkan pemberian restu dan pengampunan yang tulus. Proses pertukaran energi positif inilah yang membuat suasana Lebaran di Indonesia terasa begitu mengharukan dan penuh dengan rasa kekeluargaan.

Di era modern saat ini esensi sungkeman tetap sulit digantikan oleh pesan singkat atau panggilan video. Bertemu secara fisik dan bersimpuh di hadapan orang tua memberikan kepuasan batin yang memperkuat ketahanan keluarga, sera menjadi kebutuhan jiwa untuk kembali fitri melalui restu dari mereka yang telah membesarkan kita.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....