Mengenal Legenda dan Makna Dua Belas Shio Tionghoa

  • 17 Feb 2026 18:07 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Shio adalah sistem astrologi Tionghoa, menggunakan 12 simbol hewan untuk mewakili tahun, bulan, hari, serta jam kelahiran seseorang. Sistem ini dipercaya memengaruhi peruntungan dan kepribadian seseorang berdasarkan siklus tahunan yang berulang, mencerminkan karakter, kecocokan, serta nasib hidup.

Urutan 12 shio meliputi Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, serta Babi. Setiap hewan dipercaya mewakili sifat tertentu yang dapat menggambarkan watak individu sesuai tahun kelahirannya menurut tradisi Tionghoa kuno.

Istilah shio berasal dari lafal dialek Hokkian sheshio (Hanzi: 生肖, pinyin: shēngxiāo) yang bermakna “mirip” atau “seperti”. Istilah tersebut menggambarkan keserupaan karakter manusia dengan simbol hewannya masing-masing.

Ada berbagai legenda yang mengisahkan asal muasal shio. Konon, pada zaman dahulu di China, masyarakat tidak tahu bagaimana cara menghitung tahun, bulan, hari, dan waktu.

Kaisar Langit pun kemudian mengajarkan cara perhitungan tersebut menggunakan nama hewan agar manusia dapat mudah mengingatnya. Ia pun menyelenggarakan lomba penyebrangan sungai pada hari ulang tahunnya.

Dua belas hewan terpilih merupakan pemenang perlombaan tersebut dan yang mencapai titik akhir terlebih dahulu akan ditetapkan sebagai urutan nama tahun. Perlombaan itu menggambarkan kecerdikan, ketekunan, dan keberuntungan masing-masing hewan.

Kucing dan Tikus adalah sahabat baik yang sama-sama ingin memenangkan perlombaan. Mereka pun meminta Kerbau yang biasa bangun pagi untuk membangunkan mereka agar bisa bersama-sama mengikuti perlombaan.

Pada hari perlombaan, Kerbau pun menepati janjinya dengan membangunkan Tikus dan Kucing, serta mempersilakan mereka duduk di atas badannya. Namun, ketika di tengah sungai, Tikus dengan sengaja mendorong Kucing sehingga Kucing terjatuh ke sungai.

Pada saat hampir menuju titik akhir, Tikus tiba-tiba loncat dari badan kerbau dan langsung berlari menuju titik akhir perlombaan. Tikus berhasil menjadi yang pertama tiba.

Sesaat kemudian, si Kerbau tiba di urutan kedua, disusul Macan pada urutan ketiga. Kemudian, Kelinci mendapat urutan keempat dan Naga menduduki urutan kelima.

Tiba-tiba, muncul pula seekor ular dari padang rumput dan menduduki urutan keenam. Kuda hanya mendapat urutan ketujuh.

Kambing, Monyet, dan Ayam yang tidak bisa berenang menduduki urutan ke delapan, sembilan, dan sepuluh. Sedangkan Anjing yang suka bermain air, malah bermain air dulu sehingga membuatnya berada di urutan kesebelas.

Semua sangat penasaran urutan terakhir akan jatuh kepada siapa. Tak lama kemudian, terdengar suara Babi yang bertanya “Ada makanan enak apa di sini?” dan dengan demikian Babi menduduki urutan ke-12.

Tiba-tiba Kucing muncul dengan badan yang basah dan bertanya pada Kaisar Langit, “Saya urutan berapa?”. Kaisar Langit kemudian menjawab “Kamu datang terlambat, perlombaan sudah selesai.”

Mendengar hal itu, Kucing sangat marah dan ingin memakan Tikus. Semenjak itu, persahabatan mereka pun hancur, setiap bertemu Kucing, Tikus pun akan lari ketakutan dan selalu menghindar.

Shio Tikus dikenal cerdik, menarik, serta penuh rasa ingin tahu, tetapi terkadang mudah tergoda urusan finansial pribadi. Kerbau digambarkan teguh pendirian, jujur, dapat diandalkan, namun kadang keras kepala ketika mempertahankan prinsip kehidupan yang diyakini sendiri.

Macan melambangkan keberanian, kemandirian, serta semangat kompetitif yang tinggi, sementara Kelinci dikenal lembut, tulus, tenang, meskipun sering ragu. Naga dianggap berenergi besar, karismatik, cerdas, ambisius, sedangkan Ular diasosiasikan misterius, bijaksana, humoris, namun terkadang penuh curiga.

Kuda digambarkan hangat, ramah, energik, mandiri, sedangkan Kambing dikenal kreatif, tenang, pemalu, serta kerap kesulitan membuat keputusan penting. Monyet dikenal cerdas, lucu, enerjik, ambisius, sedangkan Ayam jujur, pekerja keras, teliti, tetapi sering tidak sabaran dalam menunggu.

Anjing melambangkan kesetiaan dan kejujuran tinggi, walau terkadang cemas, sementara Babi dikenal rajin, pemaaf, penyayang, serta polos sifatnya. Selain hewan, sistem shio juga dipengaruhi lima elemen alam, yakni Kayu, Api, Tanah, Logam, dan Air yang berputar bergantian.

Perputaran elemen berlangsung setiap enam puluh tahun, menghasilkan kombinasi unik antara hewan dan unsur yang memengaruhi karakter individu. Penentuan shio pun umumnya mengikuti Tahun Baru Imlek, tetapi sebenarnya juga mempertimbangkan bulan, hari, serta jam kelahiran seseorang.

Dalam budaya Tionghoa, shio sering digunakan untuk meramalkan kecocokan asmara, peluang karier, kesehatan, hingga keberentungan kehidupan seseorang di masa depan. Meskipun sifatnya kepercayaan tradisional, shio tetap populer hingga kini sebagai bagian identitas budaya, hiburan, dan panduan simbolis dalam kehidupan masyarakat. (cel)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....