Warak Ngendhog, Ramadan, dan Spirit Multikulturalisme Kota Semarang

  • 09 Feb 2026 10:29 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Tidak ada yang tahu secara pasti sejak kapan Warak Ngendhog hadir dalam setiap Tradisi Dugderan yang biasa digelar menjelang Ramadan. Yang jelas, pada akhir abad ke-19, sejarawan Amen Budiman meyakini bahwa masyarakat Semarang sudah mengenal Warak Ngendhog.

Amen dalam Semarang Sepanjang Jalan Kenangan (1976) menyebutkan, sekitar tahun 1881-1887 muncul mainan Warak Ngendhog dalam perayaan megengan. Meski begitu, ia tidak menyebut siapa pencipta Warak Ngendhog dan kapan waktu penciptaannya.

Di kalangan masyarakat Semarang, Warak Ngendhog merupakan cerita rakyat. Hewan tersebut diyakini sebagai hewan besar yang ditemukan warga di hutan, yang sekarang menjadi pemukiman Kampung Purwodinatan.

Sebagai hewan mitologi, Warak Ngendhog memiliki bentuk fisik yang berupa gabungan dari beberapa hewan. Kepala naga sebagai representasi Tionghoa, tubuh unta sebagai representasi Arab, dan kaki kambing sebagai representasi Jawa.

Bentuk fisik gabungan ini adalah cerminan masyarakat Kota Semarang yang majemuk dengan beraneka ragam suku, agama, dan ras. Perbedaan itu bukanlah alasan untuk terpecah, tetapi justru sebagai modal awal untuk membangun masyarakat toleran di tengah kemajemukan.

Terkait dengan namanya, masih ada perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat bahwa Warak Ngendhog berasal dari bahasa Arab, ada juga yang berpendapat Warak Ngendhog berasal dari bahasa Jawa.

Dalam bahasa Arab, warak berasal dari kata wara’ yang berarti menghindari yang dilarang untuk kembali suci. Kemudian, Ngendhog berarti bertelur yang kemudian telurnya diibaratkan sebagai pahala karena sudah menahan hawa nafsu selama bulan Ramadan.

Sementara, dalam bahasa Jawa, warak berarti badak atau hewan besar. Ada mitos yang berkembang di masyarakat zaman dahulu seorang warga bertemu dengan hewan besar berleher panjang di hutan.

Namun, setelah dicari kembali, hewan itu tidak pernah ditemukan lagi. Akhirnya, dibuatlah mainan anak-anak yang dijual pada saat Dugderan, konon itu adalah wujud warak yang dimaksud.

Selama berpuluh tahun Warak Ngendog menjadi mainan anak-anak yang selalu muncul pada pasar malam dugderan. Mainan ini diyakini memiliki pesan untuk menjalankan ibadah puasa kepada anak-anak.

Pada tahun 2000, sebuah pagelaran tari yang dikelola pemerintah kota yang dilaksanakan di Taman Budaya Raden Saleh. Nama dari pagelaran tari tersebut adalah Festival Kirab Budaya Tradisi Dugder yang kemudian melahirkan Tari Warak Dugder.

Tahun 2010 Tari Warak Dugder mulai beralih fungsi menjadi tari hiburan. Tari Warak Dugder diadaptasi dari filosofi Warak Ngendog yang merupakan ikon utama tari ini.

Di dalamnya, penari berusaha menyampaikan pesan-pesan yang terkandung dari Warak Ngendhog. Tarian ini mencerminkan kehidupan masyarakat Semarang yang saling bergotong royong dalam membangun kotanya.(Wohingati)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....