Makna Tradisi Nyadran yang Kini Sering Terlupakan

  • 06 Feb 2026 20:31 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Makna yang terkandung dalam tradisi nyadran itu antara lain sebagai tanda bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai kesadaran atas berkah dan rahmat yang telah diberikan kepada masyarakat desa selama satu tahun.

Di samping itu, juga sebagai tanda penghormatan kepada pendiri desa, cikal bakal desa, atau biasa disebut sebagai danyang desa. Seiring dengan digelarnya kesenian tradisional itu, maka nyadran juga sebagai ajang pelestarian/pengembangan kesenian tradisional secara nyata.

Menurut Agus Warianto, seorang budayawan, Tradisi Ruwahan (Nyadran) di Jawa tidak diketahui secara pasti sejarahnya. Hal ini dikarenakan tradisi ini sudah ada sejak zaman dahulu atau sejak zaman nenek moyang.

Menurut beberapa sumber berbeda, awalnya, sebelum masuknya Agama Islam, tradisi Ruwahan bertujuan sebagai sarana pemujaan atau mengagungkan para leluhur. Tujuannya agar mereka memberkati, menjaga penduduk, dan agar penduduk tidak terkena tulah (kutukan) dari arwah leluhur.

Tujuan ini kemudian berubah setelah masuknya Agama Islam.

Rangkaian Tradisi Ruwahan biasanya adalah: Berseh/bersih (Membersihkan Makam): Dimulai pada tanggal 14 bulan Syakban. Ruwahan/Slametan di Masjid: Dilaksanakan pada tanggal 15 Syakban (malam harinya) secara bersama-sama.

Nyadran (Ruwahan Pindhon): Dilakukan setelah tanggal 15 bulan Syakban. Waktunya ditentukan oleh lingkungan, kaum, dan masyarakat.

Pelaksanaan tradisi Ruwahan (termasuk Nyadran) di Dusun Padaan Ngasem diikuti oleh seluruh masyarakat Dusun Padaan Ngasem.  Saat Ruwahan/Slametan di masjid, setiap keluarga masyarakat membawa ambengan.

Saat Nyadran, tradisi diikuti oleh masyarakat yang berada di lingkungan sekitar makam. Terutama yang memiliki nenek moyang, yang dimakamkan di makam tersebut, sedangkan masyarakat di luar wilayah makam hanya datang untuk mengikuti tradisi.

Tradisi Ruwahan (nyadran) memeliki makna untuk mengirim doa dan memohonkan ampunan leluhur kepada Allah. Mengingatkan masyarakat kepada leluhurnya dengan mendoakan dan ziarah kubur sebagai bentuk bakti anak kepada orang tua atau leluhur.

Merekatkan persaudaraan antar warga masyarakat karena menjadi momen berkumpul dan saling berkomunikasi.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....