Tradisi Nyadran, Akulturasi Budaya Hindu dan Islam
- 06 Feb 2026 19:09 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Tradisi nyadran adalah salah satu jenis upacara daur hidup dalam masyarakat/kebudayaan Jawa. Tak ubahnya seperti tradisi lainnya seperti ritual gerebeg (puasa dan Maulud), tahun baru 1 Syura, dan Lebaran.
Ritual jenis ini dibarengi dengan penyediaan berbagai menu makanan lokal oleh seluruh rumah tangga di suatu desa secara bersama-sama.Seperti nasi kuning, panggang ayam, apem, ampyang, opak ketan, jenang abang, jadah, dan masih banyak yang lainnya.
Di dalam kerangka pelaksanaan nyadran biasanya juga dipergelarkan beberapa kesenian tradisional tertentu semenjak siang hari hingga malam hari. Kesenian daerah setempat misalnya reyog, gambyong (tayub), wayang kulit, wayang orang, kethoprak, ludruk, dan lainnya.
Menurut sumber ‘’Tradisi Nyadran dalam Perspektif Islam’’ nyadran berasal dari bahasa Sanskerta “Sraddha”yang artinya keyakinan. Tradisi Nyadran merupakan suatu budaya mendoakan leluhur yang sudah meninggal.
Seiring berjalannya waktu mengalami proses perkembangan budaya sehingga menjadi adat dan tradisi yang memuat berbagai macam seni budaya.
Dikenal juga dengan nama Ruwahan, karena dilakukan pada bulan Ruwah. Tradisi Nyadran berdasarkan sejarahnya merupakan suatu akulturasi budaya jawa dengan islam.
Nyadran berasal dari tradisi Hindu dan Budha yang berasal dari abad ke-15. Lalu Walisongo menggabungkan tradisi ini dengan dakwahnya sehingga ia dapat dengan mudah memeluk Islam.
Untuk menghindari kesalahpahaman dengan tradisi tradisi tersebut, para wali melengkapinya dengan mengambilnya, mengisinya dengan ajaran Islam, dan membaca ayat-ayat seperti Alquran, Tahlil, dan doa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....