Lawang Sewu, Saksi Perjalanan Sejarah Kota Semarang

  • 05 Feb 2026 09:58 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, SEMARANG – Lawang Sewu merupakan bangunan bersejarah yang berdiri di kawasan Tugu Muda, Semarang. Bangunan peninggalan era kolonial ini dikenal sebagai salah satu landmark kota sekaligus destinasi wisata edukatif yang merekam sejarah perkeretaapian dan perjuangan bangsa.

Lawang Sewu awalnya dibangun sebagai kantor pusat perusahaan kereta api swasta Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij. Hal itu tertulis dalam penelitian “Perspektif Sejarah dan Fungsi Bangunan Lawang Sewu di Semarang” karya Siti Nurhayati  dalam Jurnal Sejarah dan Budaya (2017).

Disebutkan, pembangunan dimulai pada 1904 dan rampung sekitar 1907. Pembangunan ini bertujuan untuk mendukung pengelolaan jaringan transportasi kereta api di Jawa.

Nama Lawang Sewu berasal dari bahasa Jawa yang berarti “seribu pintu”. Dalam kajian yang sama, Nurhayati menjelaskan, sebutan tersebut merujuk pada banyaknya pintu dan jendela berukuran besar yang menjadi ciri utama bangunan, sekaligus pencahayaan dan sirkulasi udara alami.

Dari sisi arsitektur, Lawang Sewu dirancang oleh arsitek Belanda Jakob F. Klinkhamer dan B. J. Ouendag. Penelitian “Resiliensi Arsitektur Kolonial pada Bangunan Lawang Sewu” oleh Rizky Ananda dan Arif Setiawan dalam Jurnal Arsitektur dan Lingkungan Binaan (2020) menyebutkan, bangunan ini mengusung gaya kolonial modern.

Pada masa pendudukan Jepang, fungsi Lawang Sewu berubah drastis. Menurut artikel “Lawang Sewu dalam Ingatan Kolektif Masyarakat Semarang” karya Dewi Lestari di Jurnal Humaniora (2019), bangunan ini digunakan untuk kepentingan militer dan administrasi.

Beberapa ruang bawah tanah bahkan difungsikan sebagai penjara. Kondisi pencahayaan dan ventilasi sangat terbatas.

Sejarah Lawang Sewu juga tidak terlepas dari peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang pada Oktober 1945. Dewi Lestari mencatat, kawasan sekitar Lawang Sewu menjadi salah satu titik penting perlawanan pemuda perkeretaapian melawan pasukan Jepang, sehingga memperkuat makna bangunan ini sebagai simbol perjuangan kota.

Setelah Indonesia merdeka, Lawang Sewu sempat digunakan sebagai kantor Dinas Perkeretaapian sebelum akhirnya ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi negara. Sejumlah penelitian menekankan pentingnya pelestarian Lawang Sewu sebagai bagian dari identitas sejarah Kota Semarang.

Kini, Lawang Sewu dikelola sebagai museum dan galeri warisan oleh PT Kereta Api Indonesia. Bangunan ini tidak hanya menyajikan koleksi arsip dan peralatan perkeretaapian, tetapi juga menjadi ruang publik untuk pameran seni, tur sejarah, dan kegiatan budaya.

Upaya revitalisasi yang dilakukan pemerintah dan pengelola dinilai berhasil memperkuat fungsi edukatif sekaligus estetika bangunan tanpa menghilangkan keaslian struktur. Keberadaan Lawang Sewu pun terus mendorong pariwisata dan aktivitas ekonomi di kawasan Tugu Muda, sekaligus menjadi saksi perjalanan panjang sejarah Kota Semarang. (Maritza)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....