Koran De Locomotief, Geliat Pers Kolonial dari Semarang
- 04 Feb 2026 09:57 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, SEMARANG – Perlawanan terhadap kolonialisme di Hindia Belanda tidak hanya muncul dari kalangan bumiputra. Di Semarang, sebuah surat kabar berbahasa Belanda, De Locomotief justru dikenal aktif mengkritik kebijakan kolonial yang merugikan masyarakat pribumi.
Dalam artikel “Sejarah Pers Kolonial di Indonesia” karya Doni M. Chaniago (2018), dijelaskan, De Locomotief berawal dari surat kabar Semarangsch Nieuws en Advertentieblad yang terbit pertama kali pada 1851. Media ini kemudian berganti nama menjadi De Locomotief pada 1863, seiring menguatnya wacana pembangunan jalur kereta api di Hindia Belanda.
Chaniago mencatat, di bawah kepemimpinan Pieter Brooshooft, De Locomotief berkembang menjadi media yang relatif kritis terhadap kebijakan pemerintah kolonial. Melalui artikel dan tajuk rencananya, surat kabar ini kerap menyoroti ketimpangan sosial serta dampak kebijakan kolonial terhadap masyarakat bumiputra.
Chaniago juga menilai Brooshooft sering mengkritik pelaksanaan politik etis oleh pemerintah kolonial yang dianggap tidak sepenuhnya sejalan dengan gagasan awalnya. Terutama, dalam program irigasi, emigrasi, dan edukasi.
Pandangan serupa disampaikan dalam penelitian “Pers Kolonial dan Isu Sosial Bumiputra” karya Salsabila Ahmad (2020). Dalam kajiannya, Ahmad menyebut De Locomotief sebagai salah satu surat kabar Eropa yang menempatkan isu kesejahteraan bumiputra sebagai perhatian utama redaksi.
Menurut Ahmad, perhatian Pieter Brooshooft terhadap kondisi masyarakat pribumi menguat setelah ia melakukan perjalanan ke berbagai wilayah di Pulau Jawa pada 1887. Dari perjalanan tersebut, Brooshooft menuliskan laporan mengenai kemiskinan penduduk Jawa yang dipandang sebagai dampak dari sistem tanam paksa.
Sementara, kajian “Pieter Brooshooft en de Ethische Politiek” yang dimuat dalam jurnal Indische Letteren (2021) menempatkan Brooshooft sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan gagasan politik etis di Hindia Belanda. Artikel ini menegaskan bahwa peran Brooshooft melalui De Locomotief tidak dapat dilepaskan dari upayanya mengkritisi praktik kolonial yang eksploitatif.
Dalam buku “Pers dan Masyarakat Hindia Belanda” karya Supangkat (2005), De Locomotief disebut sebagai salah satu media awal yang menyebarkan paham liberalisme di Hindia Belanda. Namun, liberalisme yang disuarakan surat kabar ini dinilai berbeda dari liberalisme kaum pemodal karena bercorak etis.
Supangkat juga mencatat bahwa pengaruh De Locomotief terbilang luas. Selain beredar di berbagai wilayah Hindia Belanda, surat kabar ini juga tersebar hingga Eropa.
Pembacanya berasal dari beragam kalangan. Mulai dari pedagang, pengusaha perkebunan, industrialis, hingga masyarakat pribumi terpelajar dan pegawai pemerintahan.
Terbit mingguan pada awalnya, De Locomotief kemudian berkembang pesat menjadi terbit dua kali sepekan, lalu menjadi surat kabar harian pada 1879. Pesatnya perkembangan tersebut menjadikannya salah satu media paling berpengaruh di Semarang pada masanya.
Sebagai surat kabar dengan usia panjang, De Locomotief baru benar-benar menghentikan penerbitannya pada 1956. Surat kabar ini berhenti terbit lima tahun setelah memperingati satu abad keberadaannya. (Wohingati)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....