Mengapa Imlek Selalu Identik dengan Warna Merah

  • 31 Jan 2026 06:20 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Memasuki perayaan Tahun Baru Imlek, pemandangan sudut-sudut kota hingga pusat perbelanjaan mulai didominasi oleh dekorasi berwarna merah menyala. Mulai dari lampion yang menggantung cantik, gulungan couplets berisi doa di pintu rumah, hingga amplop angpao yang paling dinanti.

Penggunaan warna merah ini bukan sekadar estetika belaka, melainkan sebuah tradisi mendalam yang melambangkan keberuntungan dan kegembiraan bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Secara historis, kecintaan pada warna merah berakar dari legenda kuno tentang Nian, sesosok makhluk mitologi yang kerap muncul di awal tahun untuk mengganggu penduduk desa.

Konon, Nian sangat takut dengan benda berwarna merah, bunyi ledakan petasan, dan cahaya terang. Sejak saat itu, memasang dekorasi merah menjadi strategi tahunan untuk mengusir nasib buruk dan energi negatif, sekaligus memastikan transisi tahun berjalan dengan aman dan penuh kedamaian.

Dalam filosofi Tiongkok, merah dikategorikan sebagai elemen api yang melambangkan vitalitas, gairah, dan kemakmuran. Menggunakan pakaian berwarna merah saat hari raya dipercaya dapat memancarkan energi positif bagi pemakainya.

Tak heran jika saat makan malam keluarga atau kunjungan silaturahmi, warna ini menjadi "seragam" wajib yang menyatukan harapan agar di tahun yang baru, setiap individu diberikan kelancaran dalam usaha maupun kesehatan yang prima. Fenomena "serba merah" ini juga memberikan dampak signifikan terhadap roda ekonomi kreatif dan ritel setiap tahunnya.

Para pelaku usaha, mulai dari desainer busana hingga pengrajin pernak-pernik, berlomba-lomba meluncurkan koleksi khusus bertema merah. Tren ini membuktikan bahwa warna merah tidak hanya berfungsi sebagai simbol ritual keagamaan atau budaya, tetapi juga menjadi identitas visual yang memperkuat kemeriahan perayaan Imlek di ruang publik.

Menutup perayaan, kehadiran warna merah diharapkan tetap membawa semangat yang membara sepanjang tahun. Tradisi ini mengajarkan bahwa optimisme harus terus dinyalakan, sebagaimana terangnya lampion merah di malam pergantian tahun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....