Kembar Mayang, Dedaunan, Janur dan Bunga Bermakna Filosofi

  • 23 Nov 2025 19:28 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Kembar mayang adalah salah satu uborampe dalam upacara adat pengantin Jawa. Tersusun atas tiga unsur, yaitu dedaunan, janur, dan bunga.

Unsur dedaunan terdiri atas daun beringin, daun alang-alang, daun cikra-cikri, puring, lancuran, dan daun emas. Semua daun dalam unsur dedaunan ini dikenal dengan istilah daun apa-apa.

Unsur janur terdiri atas dari untiran, keris, pecut-pecutan, kupat luar, dan walang-walangan. Sedangkan unsur bunga terdiri atas kembang pudak atau bunga pandan putih yang harum dan kembang potro menggolo atau bunga merak warna merah atau orange.

Kembar mayang juga selalu didampingi dengan kelapa hijau yang diberi lobang kemudian dihiasi janur yang berbentuk terompet atau clorot.

Makna dan Filosofi Kembar Mayang

Rangkaian kembar mayang dalam acara pernikahan adat Jawa mempunyai makna sebagai lambang suatu kehidupan. Khususnya dalam hal perkawinan adanya kembar mayang adalah sebagai saksi peristiwa, penangkal dan penjaga dari adanya mara bahaya.

Kembar mayang sebagai penjaga mempunyai makna menyerap kebaikan dan menolak kejahatan dari segala penjuru arah. Kembar mayang juga memiliki makna sebagai penangkal dikarenakan ada kaitannya dengan penggunaan kelapa hijau yang airnya dikenal sebagai penangkal racun.

Kembar mayang yang selalu dihadirkan berpasangan memiliki maksud bahwa perwujudan bentuknya adalah sama tetapi bukan dalam artian jantan dan betina.

Peletakan kembar mayang selalu dalam jajaran kiri dan kanan sebagai lambang bahwa segala hal yang jujur, suci, dan baik diletakkan di sebelah kanan. Sebaliknya, segala hal yang buruk, bohong, dan batil selalu diletakkan di sebelah kiri pasangan pengantin.

Sehingga dalam kehidupan masyarakat Jawa, kembar mayang mempunyai makna filosofis yang mencerminkan hubungan baik antara manusia dengan lingkungannya

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....