“Petai Raksasa” Alias Entada rheedii, Bukan untuk Konsumsi
- 14 Nov 2025 15:04 WIB
- Semarang
KBRN Semarang: Viral foto polong raksasa yang disangka petai di media sosial membuat publik penasaran dengan identitas tanaman tersebut. Penelusuran botani menunjukkan bahwa polong panjang itu bukan petai hutan, melainkan Entada Rheedii yang tumbuh di kawasan tropis.
Entada Rheedii dikenal sebagai tanaman merambat raksasa yang hidup di Afrika Timur, Asia Selatan, hingga Asia Tenggara termasuk Indonesia. Polongnya dapat tumbuh lebih dari satu meter sehingga mudah disalahartikan sebagai petai berukuran ekstrem.
Struktur polong tanaman ini pipih dengan ruas besar berisi biji keras berbentuk bulat cokelat. Perbedaan paling jelas dengan petai konsumsi adalah tidak adanya aroma dan tekstur yang dapat diolah sebagai bahan makanan.
Berdasarkan laman Mongabay.co.id, Entada Rheedii memiliki potensi sebagai tanaman obat dalam sejumlah praktik pengobatan tradisional di Afrika. Bagian tertentu dari tanaman ini digunakan masyarakat setempat sebagai herbal, meskipun pemanfaatannya tetap perlu mengikuti panduan ilmiah.
Dalam literatur botani, penulisan nama Entada sering ditampilkan sebagai E. Rheedei untuk menghormati Hendrik Adriaan van Rheede tot Drakestein, ahli botani Belanda pada abad ke-17. Ia dikenal sebagai penyusun karya besar Hortus Malabaricus yang mendokumentasikan banyak tanaman Asia.
Para ahli kehutanan menegaskan bahwa polong Entada Rheedii tidak layak dikonsumsi karena bukan tanaman pangan dan mengandung biji sangat keras. Masyarakat juga diimbau tidak mencoba mengolahnya tanpa pengetahuan botani yang memadai mengingat kandungan senyawa di dalamnya berbeda dari kacang-kacangan.
Fenomena “petai raksasa” yang viral menunjukkan pentingnya edukasi publik tentang keragaman flora Indonesia agar masyarakat tidak keliru mengidentifikasi tanaman. Banyak spesies hutan memiliki kemiripan visual dengan tanaman konsumsi, namun memiliki karakter dan fungsi yang jauh berbeda.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....