Peristiwa Geger Pecinan, Penyebab Kehancuran Keraton Kartasura
- 04 Agt 2025 21:58 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Pada hari Rebo Pon, tanggal 27 Ruwah, tahun Alip 1603 AJ, bertepatan dengan tanggal 11 September 1680 M, Amangkurat II secara resmi menempati Keraton Kartasura dan memindahkan pusat pemerintahannya di sana.
Kisah Geger Pecinan di Kartasura merupakan salah satu peristiwa besar yang pernah terjadi di Jawa pada masa pendudukan VOC. Kisah tersebut berawal dari pembantaian yang dilakukan oleh VOC terhadap masyarakat Tionghoa di Batavia.
Dirangkum dari beberapa sumber sejarah, tindakan tersebut membuat masyarakat Tionghoa melarikan diri ke wilayah Jawa Tengah dan bergabung dengan Mataram. Walaupun sempat bersekutu pada tahun 1741, kenyataannya Sunan Pakubuwono II berbalik mendukung VOC pada tahun 1742.
Kisah Geger Pecinan di Kartasura merupakan salah satu peristiwa besar pada masa pendudukan VOC di Indonesia tahun 1742. Layaknya peristiwa besar lain, peristiwa Geger Pecinan pun mempunyai latar belakang.
Peristiwa tersebut bermula dari pembantaian VOC terhadap masyarakat Tionghoa di Batavia pada 9 – 10 Oktober 1740. VOC membakar rumah masyarakat Tionghoa dan melakukan eksekusi.
Tindakan tersebut tentu membuat masyarakat Tionghoa mengambil sikap. Masyarakat Tionghoa melarikan diri ke Jawa Tengah dan bersekutu dengan kekuatan Mataram.
Peristiwa Geger Pacinan dan perubahan sikap Pakubuwana II terhadap para pemberontak Tionghoa yang mengakibatkan kemarahan para pemberontak menjadi awal dari kehancuran Keraton Kartasura. Kekuatan pasukan pemberontak yang kuat berhasil mengalahkan pertahanan pasukan Kartasura di Boyolali, Teras, Mojosongo, dan Ngasem.
Serangan ini membuat Van Hohendroff memberikan saran kepada Pakubuwana II agar menyelamatkan diri. Tetapi Tumenggung Wirajaya dan Citrasoma memohon agar Pakubuwana II menunggu apakah pasukan Kartasura dapat meredam serangan para pemberontak.
Pemberontak terdiri dari kaum pribumi Jawa yang bergabung dengan kaum Tionghoa. Mereka memberontak karena merasa tidak ada keadilan yang dirasakan rakyat dari pemerintah dan terjadi kesewenang-wenangan diberbagai wilayah.
Pada akhirnya para pemberontak menyerbu Keraton Kartasura dan Susuhan bersama Van Hohendroff dan para pengikutnya melarikan diri. Seusai penyerbuan, para pemberontak mulai merampas dan menjarah emas, karungan uang, dan barang-barang berharga lainnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....