Petilasan Keraton Kartasura, Bagian dari Sejarah Mataram Islam

  • 04 Agt 2025 21:50 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Keraton Kartasura adalah petilasan keraton dan ibu kota Kesultanan Mataram pada tahun 1680–1745, setelah Keraton Plered. Setelah kehancurannya, keraton kemudian dipindahkan ke Surakarta.

Keraton ini didirikan oleh Amangkurat II pada tahun 1680, karena Keraton Plered saat itu telah diduduki Pangeran Puger yang ditugasi mempertahankan Plered oleh Amangkurat I, ketika terjadi pemberontakan Trunajaya. Pangeran Puger akhirnya dapat dibujuk untuk bergabung ke Kartasura dan mengakui kedaulatan kakaknya sebagai Amangkurat II.

Petilasan Keraton Kartasura sekarang terletak di wilayah administratif Kabupaten Sukoharjo, di daerah yang kini disebut Kecamatan Kartasura.

Peninggalan yang masih tersisa dari Keraton Kartasura hingga saat ini adalah sebagian dinding cepuri, baluwarti, taman keraton (Gunung Kunci), gedong piring. Selain itu juga ada gedong obat, dalem pangeran, dan toponim yang merupakan komponen kota Kartasura di masa lalu.

Beberapa toponim tersebut antara lain Kemasan (pengrajin emas), Gerjen (tukang jahit), Sayangan (kerajinan tembaga), Kunden (kerajinan gerabah), Pandean (tukang besi). Tersisa juga Jagalan (tukang jagal hewan), Ngabean (pangeran Ngabehi), Singapuran (pangeran Singapura), Mangkubumen (pangeran Mangkubumi), Purbayan (pangeran Purbaya).

Dirangkum dari berbagai sumber, secara etimologi, nama Kartasura diambil dari bahasa Jawa Kuno: ‘’karta’’ artinya makmur, atau dalam bahasa Sanskerta: ‘’kṛta’’ berarti suatu pencapaian dan ‘’sura’’ yang berarti berani. Dengan demikian nama Kartasura yang dimaksud berarti sebuah kota yang berani berjuang untuk kemakmuran suatu bangsa.

Sejarah

Akibat pemberontakan Trunajaya, maka Amangkurat I beserta keluarganya mengungsi kearah barat termasuk putranya yaitu Raden Mas Rahmat. Dalam pengungsiannya, ia mengangkat kembali Raden Mas Rahmat sebagai adipati anom (putra mahkota) yang sebelumnya hak putra mahkota telah diberikan kepada Pangeran Puger.

Amangkurat I beserta keluarga dan para pengikutnya sudah berada di daerah Banyumas. Dalam kondisi yang serba sulit, Amangkurat I jatuh sakit hingga akhirnya wafat. Sesuai wasiatnya sebelum meninggal, Amangkurat I dimakamkan di dekat gurunya di Tegalarum.

Sementara itu Raden Mas Rahmat menyatakan diri sebagai susuhunan Mataram menggantikan Amangkurat I, dia bergelar Amangkurat II. Seluruh kekuatan yang masih setia segera dikumpulkan dan dipusatkan di Tegal.

Mereka bersepakat merebut kembali takhta Jawa. Untuk mewujudkan tujuannya, Amangkurat II meminta bantuan kekuatan tempur kepada VOC di Batavia.

Pada tahun 1678 Amangkurat II mengerahkan pasukannya menyerang Trunajaya di Kediri. Pasukan pemberontak kewalahan menghadapi Mataram yang dibantu serdadu VOC.

Setelah melalui pertempuran tersebut, Trunajaya tertangkap dan dijatuhi hukuman mati. Kekuasaan Mataram berhasil dipulihkan oleh Amangkurat II.

Usai menumpas Trunajaya, Amangkurat II menarik pasukannya menuju Semarang, kemudian ia memerintahkan kepada Patih Nerangkusuma agar membuka hutan Wanakerta yang akan dibangun menjadi keraton baru.

Pada hari Rebo Pon, tanggal 27 Ruwah, tahun Alip 1603 AJ, bertepatan dengan tanggal 11 September 1680 M. Amangkurat II secara resmi menempati Keraton Kartasura dan memindahkan pusat pemerintahannya di sana.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....