Ojo Dumeh, Falsafah Jawa untuk Tetap Rendah Hati
- 02 Agt 2025 22:37 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Ojo dumeh merupakan falsafah yang sudah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Jawa. Dalam bahasa Jawa, ojo artinya jangan dan dumeh berarti mentang-mentang.
Jika digabungkan, ‘ojo dumeh’ artinya jangan mentang-mentang, mirip dengan ‘ojo ngaji mumpung’. Falsafah ini bisa menjadi pengingat bagi seseorang untuk tidak bersikap angkuh dan tinggi hati dalam menjalankan kekuasaan.
Jangan terlalu membangga-banggakan dengan apa yang dimiliki. Baik itu pangkat atau jabatan, kecantikan, ketampanan, harta/benda, maupun ketenaran.
Mengutip dari buku Setia Hati oleh Bambang Sri Hartono dan Dr. Taufiqur Rohman. Ojo dumeh memberikan pelajaran pada setiap manusia agar selalu mawas diri terhadap segala ucapan maupun tindakan yang akan dilakukan.
Falsafah tersebut turut mengajarkan sopan santun dalam berperilaku serta mengajarkan diri untuk selalu introspeksi. Jangan karena merasa lebih dari orang lain, maka bersikap melampaui batas tanpa mempedulikan masyarakat sekitar.
Falsafah ojo dumeh kerap disisipkan dalam sebuah kalimat di kalangan masyarakat Jawa, semisal:
Ojo dumeh ayu banjur kemayu (jangan mentang-mentang cantik lantas sok cantik).
Ojo dumeh kuwasa banjur kumawasa (jangan mentang-mentang berkuasa menjadikan semena-mena).
Ojo dumeh wenang banjur wenang-wenang (jangan mentang mentang punya kewenangan lalu semena-mena).
Ojo dumeh sugih banjur semugih (jangan mentang-mentang kaya lantas sok kaya). (TLM)