Hari Kartini, Pilihan Baju Adat untuk Parade Budaya

  • 20 Apr 2025 21:30 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Hari Kartini 21 April setiap tahun selalu menjadi momen spesial untuk mengenang perjuangan emansipasi perempuan Indonesia. Salah satu bentuk perayaannya yang menarik perhatian adalah defile busana adat yang mencerminkan kekayaan budaya nusantara.

Dalam pawai yang biasanya berlangsung di sekolah-sekolah, peserta mengenakan baju adat dari berbagai daerah sebagai simbol keberagaman dan kebanggaan akan identitas lokal. Tidak hanya kebaya Jawa yang biasa digunakan, sejumlah busana dari daerah-daerah yang jarang terangkat mulai mendapat sorotan.

Busana adat Minangkabau, dikenal dengan nama Bundo Kanduang, mencerminkan kehormatan perempuan dalam budaya matrilineal. Ciri khasnya terletak pada suntiang, hiasan kepala bertingkat yang megah dan sarat makna.

Dari Kalimantan Timur, baju adat Dayak Kenyah menonjolkan motif alam dan hewan mitologis yang diukir pada kain tenun. Busana ini biasanya dilengkapi dengan aksesori manik-manik warna-warni dan ikat kepala dari bulu burung enggang.

Di wilayah Nusa Tenggara Timur, tenun ikat Sumba digunakan sebagai busana adat dengan motif simbolik yang diwariskan secara turun-temurun. Warna-warna alami pada kainnya mencerminkan kedekatan masyarakat Sumba dengan alam dan spiritualitas.

Sementara itu, baju adat Bugis-Makassar seperti Baju Bodo tampil elegan dengan potongan longgar dan warna cerah. Meski sederhana, busana ini sarat nilai filosofis tentang kesopanan dan status sosial perempuan dalam masyarakat Bugis.

Defile ini bukan hanya pertunjukan kostum, tapi juga ajang edukasi tentang tradisi yang mulai jarang dikenal. Anak-anak dan remaja pun jadi lebih tertarik mengenakan busana adat karena melihat nilai dan cerita di baliknya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....