Dewa Cinta Cuma Cupid? Jawa Punya yang Lain!

  • 12 Feb 2025 13:53 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Di masa kini, banyak orang mengenal Cupid sebagai Dewa Cinta dalam mitologi Yunani dan simbol perayaan Valentine. Ia sering digambarkan sebagai seorang bayi malaikat dengan busur dan anak panahnya.

Dalam kepercayaan Yunani Kuno, Cupid dikenal dengan nama Eros yang membawa anak panah emas untuk membangkitkan rasa cinta. Eros juga membawa anak panah timah untuk memicu ketidakcintaan.

Cupid atau Eros dipercaya menggunakan senjatanya untuk memengaruhi perasaan para dewa dan manusia. Hingga saat ini, Cupid kemudian menjadi ikon yang mendamaikan dan menggambarkan esensi cinta dalam tradisi Hari Valentine.

Tapi, di Indonesia, terlebih di Jawa, ada juga Dewa Cinta yang bisa menjadi ikon Hari Valentine. Dewa Cinta yang juga menjadi Dewa Kasih Sayang tersebut adalah Kamajaya.

Kamajaya bersama dengan istrinya, Kamaratih adalah pasangan dewa dewi pemelihara rasa cinta dan kasih sayang dalam jagat pewayangan. Keduanya digambarkan sangat rukun dan setia untuk menumbuhkan benih cinta dan kasih sayang pada diri laki-laki dan perempuan.

Dalam kisah pewayangan Jawa, Kamajaya dan Kamaratih tidak pernah dikisahkan ada perselisihan di antara keduanya. Mereka menjalin cinta abadi sampai mati dengan suasana rukun dan damai.

Oleh karena kisah baik percintaannya, Kamajaya dan Kamaratih menjadi simbol cinta dan kasih sayang pada masyarakat Jawa. Hal ini dibuktikan dengan hadirnya Kamajaya dan Kamaratih pada tradisi mitoni.

Mitoni adalah tradisi yang dilakukan oleh ibu hamil yang menginjak usia kandungan 7 bulan. Tradisi ini dijalankan dengan harapan agar kehamilan berjalan lancar hingga jabang bayi nantinya terlahir.

Saat mitoni, sepasang kelapa gading dengan ukiran Kamajaya dan Kamaratih akan dipecahkan. Lalu dari situlah, menurut kepercayaan Jawa, jenis kelamin dari jabang bayi akan diketahui.

Jika kelapa terbelah sempurna, maka anak yang akan lahir mungkin laki-laki. Sebaliknya, jika tidak terbelah dengan baik atau meleset, bisa jadi bayi berjenis kelamin perempuan.

Orang tua berharap anak lelakinya kelak mewarisi sifat dan fisik seperti Kamajaya yang baik dan tampan. Begitu juga jika bayinya perempuan, orang tua berharap anaknya bisa cantik dan baik seperti Kamaratih.

Kasih sayang orang tua kepada anaknya, yang bahkan belum lahir, sudah ditunjukkan dari adanya tradisi ini. Cerita cinta Kamajaya dan Kamaratih dapat menjadi inspirasi cerita cinta antara orang tua dan anak maupun kepada pasangan. (Michelle Sabda)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....