Mendudah Makna Tembang Sinom 'Nuladha Laku Utama'
- 09 Jan 2025 22:14 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Mencontoh adalah berbuat sebagaimana contoh sesuai dengan konteks yang dihadapi. Berbeda dengan meniru karena meniru adalah menjiplak persis (plagiat).
Jadi dalam mencontoh ada konteks dari perbuatan sesuai tantangan yang dihadapi oleh pelaku yang mencontoh. Laku bisa diartikan perilaku atau kelakukan, juga bisa diartikan cara menjalani sesuatu.
Istilah laku sebagai ilmu praktis, kalau meminjam istilah sufisme disebut suluk. Utama adalah yang terbaik, yang lebih baik dari yang lain.
Nuladha laku utama. Nuladha (contohlah) laku (perilaku) utama (utama) ; contohlah perilaku yang utama (luhur). Jadi gatra ini lebih tepat kalau dimaknai: contohlah cara menjalani hidup yang luhur.
Tumrape wong Tanah Jawi. Tumrape (bagi) wong (orang) Tanah (wilayah) Jawi (Jawa). Artinya cukup jelas, bagi orang yang tinggal di wilayah Jawa.
Pembatasan ini tentu bukan bermaksud sektarian atau rasis, tetapi lebih karena pendekatan budaya saja. Mungkin bagi orang Jawa nasehat dalam serat ini baik jika diterapkan, tetapi bagi orang luar Jawa belum tentu baik karena perbedaan budaya semata.
Wong agung ing Ngeksiganda. Wong (orang) agung (besar) ing (di) Ngeksiganda (Mataram). Orang besar dari negeri Mataram.
Kata Mataram di atas diturunkan dari kata, ngeksi yang artinya melihat, melihat jelas pakai mata, maka diambil kata Mata. Kemudian kata ganda berarti bau, yang dimaksud adalah bau harum, maka diambil suku kata terakhir rum, disamarkan menjadi ram.
Gabungan dua kata itu menjadi Mataram, nama kerajaan tempat orang besar tadi. Permainan kata seperti di atas lazim dilakukan dalam bahasa Jawa dan biasa disebut wangsalan.
Panembahan Senopati, Nama raja pertama Mataram, orang yang akan kita tiru perilakunya.
Kepati amarsudi. Kepati artinya sangat-sangat, contoh pada kata gething kepati-pati, sangat-sangat benci.
Amarsudi berarti berusaha dengan berlatih secara tekun. Jadi arti yang sesuai: sangat giat berusaha.
Sudane hawa lan nepsu. Sudane (berkurangnya) hawa lan nepsu (hawa nafsu).
Meski seringkali dijadikan kata majemuk, hawa nafsu sebenarnya dua kata yang punya arti sendiri. Hawa adalah rangsangan dari luar, nafsu adalah keinginan dari dalam.
Pinesu tapa brata. Pinesu (dipaksa, diusahakan dengan keras) tapa brata (bertapa, tirakat). Berkurangnya hawa dan nafsu tadi dilakukan dengan usaha keras untuk bertapa. Bertapa berarti tirakat, laku prihatin, mencegah atau berpantang dari sesuatu agar mendapat pencerahan.
Yang umum dilakukan oleh orang jawa tempo dulu adalah mengurangi makan dan tidur (cegah dhahar lan guling), sambil berdzikir. Juga biasa dilakukan dengan berkhalwat, menyendiri (mahas ing asepi).
Arti yang sesuai: memaksa diri menjalani laku prihatin atau tirakat.
Tanapi ing siyang ratri. Tanapi (sambil) ing (di) siyang (siang) ratri (malam), amamangun (mematut diri) karyenak (membuat enak) tyasing (hati) sasama (sesama, orang lain).
Karena Panembahan Senopati adalah seorang raja yang terkenal suka laku tirakat. Maka sangat mungkin yang dimaksud dengan gatra ini adalah sambil terus berlatih untuk mengekang hawa dan nafsu.
Beliau berusaha di siang dan malam, membuat kebijakan, memerintah, mengarahkan (itu semua disebut amamangun) agar rakyat merasa nyaman hidupnya dan (enak hati) tanpa rasa takut dan khawatir.
Demikian paparan Drs. Bambang Supriyono, M.Pd penjabat Deputi Pemanfaatan Kebudayaan KSBN Prov. Jateng. Dia hadir sebagai narasumber acara Ndoro Wedono Pro4 RRI Semarang, Kamis (9/01/2025).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....