Teknik Pembakaran Tradisional, Pembuatan Tembikar yang Masih Terjaga

  • 12 Des 2024 20:11 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Gerabah kerap kali digunakan sebagai tempat air, makanan dan peralatan masak. Perlengkapan dari gerabah ini dikenal sejak zaman dulu, sehingga menjadi sumber sejarah pada suatu peradaban di masa lalu.

Teknik pembuatan gerabah sangat sederhana, yaitu dengan teknik tangan dan pembakaran tradisional. Pembakaran tradisional adalah pembakaran secara terbuka, dalam lubang dangkal beralas tanah liat dengan api rerumputan menyala.

Teknik pembuatan gerabah seperti itu masih digunakan sampai sekarang oleh sebagian perajin keramik di Indonesia. Untuk mendapatkan gerabah yang menarik, maka salah satu yang dilakukan oleh pembuat gerabah adalah dengan memberikan motif hias pada gerabah.

Pada gerabah yang digunakan untuk rumah tangga biasanya bermotif sederhana atau polos. Sedangkan gerabah-gerabah untuk kepentingan lain tentunya memerlukan motif yang lebih menarik.

Gerabah yang paling sederhana dibentuk dengan hanya menggunakan tangan, yang berciri adonan kasar dan bagian pecahannya dipenuhi oleh jejak-jejak tangan (sidik jari). Bentuknya-pun kadang tidak simetris.

Selain dibuat dengan teknik tangan, gerabah yang lebih modern dibuat dengan menggunakan tatap batu dan roda putar. Pada awalnya, gerabah dibuat dengan bentuk polos dan mudah rapuh, tetapi saat ini tembikar tersedia dalam berbagai macam bentuk, motif, gambar, atau lukisan khas dan daya tahan lebih lama.

Gerabah merupakan suatu hasil perpaduan antara karya seni dan teknologi untuk menghasilkan barang dari tanah liat yang dibakar, seperti, genteng, porselin, dan sebagainya. Di Indonesia dibawa melalui kebudayaan Sa Huynh, suatu kebudayaan kuno di daerah Vietnam selatan (Champa) yang terkenal akan seni gerabah dan tembikar kunonya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....