Saat Lansia Kembali Jadi Anak-Anak dalam Dolanan Bareng Temu Raya Adiyuswa
- 25 Agt 2026 21:23 WIB
- Semarang
TAWA dan sorak-sorai pecah di tengah acara Temu Raya Adiyuswa GKJ Klasis Semarang Selatan di Griya Persada Convention Hotel and Resort Bandungan, Kabupaten Semarang, Selasa, 25 Agustus 2026. Di usia yang tak lagi muda, jemaat lanjut usia (lansia) atau Adiyuswa peserta temu raya justru diajak kembali merasakan kegembiraan seperti masa kanak-kanak melalui permainan sederhana, tetapi sarat makna.
Mengusung tema MBG atau Mangayubagya Berkahing Gusti, Temu Raya Adiyuswa tahun ini tidak sekadar menjadi ajang perjumpaan para jemaat lanjut usia. Panitia sengaja menghadirkan permainan kelompok atau dolanan bareng untuk membangun keakraban, melatih kekompakan, sekaligus menghadirkan kegembiraan di tengah kebersamaan.
Ketua Panitia Temu Raya Adiyuswa se-Klasis Semarang Selatan, Sudadi mengatakan, kegiatan tersebut diikuti delapan kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas sekitar 25 peserta yang berasal dari berbagai gereja.
“Dolanan bareng ini kami buat supaya bapak ibu Adiyuswa tidak hanya berkumpul dan mengikuti acara secara formal, tetapi juga bisa bermain, tertawa dan membangun kebersamaan,” katanya.
Menurut dia, permainan dibuat dalam empat pos yang setiap posnya ada dua kelompok saling berhadapan untuk mengumpulkan poin. Panitia juga menyiapkan berbagai doorprize untuk menambah semangat peserta.
Keempat pos tersebut berisi permainan Getok Tular (pos 1), Ngrayah Berkah (pos 2), Kebut Jeneng (pos 3) dan Tebak Gambar (pos 4). Dalam permainan Getok Tular, peserta duduk berbaris memanjang ke belakang.
"Peserta pertama menerima sebuah pesan, kemudian menyampaikannya kepada peserta berikutnya hanya dengan gerakan. Pesan itu terus diteruskan dari satu peserta ke peserta berikutnya hingga sampai pada peserta terakhir," ujar Sudadi. Tantangannya, peserta terakhir harus menyebutkan pesan yang diterimanya berdasarkan rangkaian gerakan tersebut.
Tak jarang, pesan yang semula sederhana berubah menjadi sesuatu yang mengundang gelak tawa ketika sampai di peserta terakhir. Pada pos 2 Nrayah Berkah, di mana setiap kelompok mengirimkan lima peserta yang harus menjalankan tantangan dengan mata ditutup.
Menurut Sudadi, peserta yang matanya ditutup bertugas mengambil bola yang disebut bola berkat (berarti penambahan poin) dan sambat (pengurangan poin). Di pos 3, masing-masing kelompok diberi kesempatan saling berkenalan dulu, lalu kemampuan mengingatnya nama itu diuji untuk menambah poin.
“Permainan ini sebenarnya sederhana, tetapi membuat peserta harus saling mengenal. Jadi bukan hanya bermain, tetapi juga membangun rasa guyub,” ujar Sudadi.
Antusiasme peserta terjadi di Pos 4, di mana peserta ditantang dalam permainan Tebak Gambar. Panitia menyiapkan sejumlah gambar tokoh yang harus ditebak peserta.
Berbeda dengan permainan sebelumnya, kata dia, seluruh kelompok dapat mengikuti permainan ini secara bersamaan, dengan sistem rebutan. Setiap kelompok hanya boleh menunjuk satu juru bicara untuk memberikan jawaban, dan yang paling cepat menjawab dengan benar akan meraih poin.
Bagi para Adiyuswa, ujar dia, permainan tersebut menjadi lebih dari sekadar hiburan. Di tengah usia yang semakin bertambah, mereka diberi ruang untuk kembali bercanda, berkompetisi secara sehat dan menikmati kebersamaan bersama saudara seiman dari gereja-gereja lain.
Pihaknya berharap, kegiatan tersebut dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi para peserta. Melalui dolanan bareng, para Adiyuswa seolah diingatkan bahwa kebahagiaan tidak mengenal batas usia. Sebab, menjadi tua bukan berarti berhenti bermain, tertawa dan berbagi sukacita bersama.
Sudadi mengemukakan, panitia juga menyediakan ruang untuk edukasi gizi yang dipandu tim panitia GJK Ngesrep. Setelah dolanan bareng, jemaat Adiyuswa kemudian mengikuti ibadah temu raya yang dipimpin Pendeta GKJ Randuares Salatiga, Adi Setyo Kristianto SSi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....