Jangan Anggap Sepele, Ejekan dan Kecurigaan Bisa Berkembang Jadi Konflik Agama

  • 22 Sep 2026 12:10 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Sikap saling mengejek dan mencurigai antarkelompok, dinilai dapat menjadi tanda awal munculnya konflik sosial keagamaan di masyarakat. Hal-hal yang dianggap sepele tersebut perlu diwaspadai, karena berpotensi berkembang menjadi prasangka hingga kebencian.

Menurut Putri Azmi Fauziah, Mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Walisongo Semarang bahwa ada beberapa jenis konflik yang harus diwaspadai. Hal tersebut menurutnya tidak langsung selalu terlihat dalam bentuk konflik fisik, melainkan dari sikap-sikap kecil yang dapat terakumulasi.

“Kadang justru dimulai dari hal-hal yang paling kecil, seperti saling mengejek atau rasa curiga. Hal-hal seperti ini yang perlu diwaspadai, karena kalau dibiarkan terus menerus yang awalnya kita cuma komentar bisa berkembang menjadi kebencian,” jelasnya dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Selasa, 15 September 2026.

Selain itu menurutnya, prasangka yang dapat dibangun di sebuah kelompok terhadap kelompok lain juga menjadi hal yang perlu diwaspadai. Putri menjelaskan jika deteksi dini konflik perlu diwaspadai, sebab dengan melakukan deteksi secara dini maka potensi konflik dapat diredam agar tidak membesar.

“Ketika masalahnya masih kecil, kalau sudah menjadi konflik yang besar biasanya emosi orang yang sudah terlibat. Rasa percaya juga menjadi hilang, jadi penyelesaiannya lebih sulit,” sebutnya.

Tanda-tanda yang bisa menjadi acuan terhadap potensi konflik, salah satunya dapat dilihat lewat media sosial. Menurut Putri, komentar-komentar yang cenderung tendensius atau merendahkan agama atau kelompok lain menjadi salah satu tanda yang berpotensi memicu konflik.

“Orang mulai saling mencurigai, dan juga ada penyebaran berita yang masih belum jelas. Justru hal-hal seperti ini yang sering kita anggap sepele, orang mungkin mengatakan ini bercanda tapi kita kan nggak tahu menerimanya gimana,” imbuhnya.

Hal ini kemudian dapat membentuk stereotip di masyarakat, sehingga prasangka terhadap suatu agama atau kelompok akhirnya muncul dan memicu konflik. Perbedaan yang dipandang Putri sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat, sebenarnya bukan menjadi masalah jika ada sikap saling menghormati baik di dunia nyata atau media sosial.

“Nah yang menjadi masalah, hal itu kemudian disertai sikap yang memaksakan kehendak atau merendahkan atau melakukan kekerasan. Informasi bisa menyebar dalam hitungan detik, masalahnya yang menyebar itu belum tentu benar apalagi kalau informasi itu menyangkut agama lain dan diberikan konteks provokatif,” jelasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....