Krisis Air, 4.619 Hektare Sawah di Pati Terancam Gagal Panen

  • 26 Agt 2026 14:48 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Pati – Krisis air akibat kemarau panjang mulai mengancam lahan pertanian di Kabupaten Pati. Dinas Pertanian Pati mencatat sekitar 4.619 hektare tanaman padi masih membutuhkan pasokan air. Petani berisiko mengalami gagal panen jika kekeringan berlanjut.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Pati, Sugiharto, mengatakan ribuan hektare tersebut tersebar di sejumlah wilayah dengan kondisi kebutuhan air yang berbeda. Tanaman padi yang terdampak berada mulai dari fase vegetatif hingga memasuki masa pembungaan.

Ia menjelaskan, wilayah Pati Selatan menjadi kawasan yang paling terdampak. “Untuk wilayah Pati Selatan memang sangat tergantung dengan air hujan dan aliran sungai,” ujarnya dalam Dialog Semarang Menyapa Pro 1 RRI Semarang, Selasa, 25 Agustus 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah wilayah Pati Utara. Kawasan tersebut masih relatif terbantu keberadaan Waduk Gunung Rowo dan Waduk Gembong.

Wilayah yang menghadapi tekanan kekurangan air antara lain Sukolilo, Kayen, Jakenan, Jaken, dan Gabus. Kondisi tersebut membuat kebutuhan pasokan air menjadi semakin mendesak, terutama bagi tanaman yang sudah memasuki fase pertumbuhan penting.

Sugiharto mengatakan pemerintah daerah berupaya mengantisipasi dampak kekeringan dengan memanfaatkan sumber air yang masih tersedia. Salah satunya melalui penggunaan ratusan titik pompa untuk mengambil air dari sungai maupun sumber air lainnya guna menyelamatkan tanaman padi.

Untuk wilayah Pati Selatan, pasokan dari Waduk Kedung Ombo menjadi salah satu harapan penting untuk mempertahankan tanaman padi. "Dinas Pertanian Pati berharap aliran dari waduk tersebut dapat diperpanjang karena kebutuhan air tanaman sedang berada pada fase krusial," katanya.

Sugiharto menegaskan kondisi kekeringan perlu diantisipasi sejak penentuan pola tanam hingga pengelolaan air di tingkat lahan. Petani di wilayah dengan keterbatasan air juga didorong mempertimbangkan komoditas atau varietas yang lebih sesuai dengan kondisi setempat agar risiko gagal panen dapat ditekan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....