Koro Berpotensi Gantikan Kedelai, Cocok Dikembangkan Saat Kemarau

  • 25 Agt 2026 10:16 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Koro dinilai berpotensi menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap kedelai sebagai bahan baku pangan utama.
  • Tanaman koro memiliki karakteristik yang menguntungkan seperti tahan terhadap kondisi kering dan tidak membutuhkan air dalam jumlah banyak.
  • Menurut Dr. Ir. Christiana Retnaningsih dari Soegijapranata Catholic University, koro relatif tidak memerlukan banyak pestisida dalam proses penanaman.

RRI.CO.ID, Semarang – Ketergantungan terhadap kedelai sebagai bahan baku pangan mendorong perlunya pemanfaatan komoditas lokal sebagai alternatif. Salah satu yang dinilai berpotensi dikembangkan adalah koro, karena karakteristiknya yang relatif tahan terhadap kondisi kering saat kemarau.

Dosen Teknologi Pangan Soegijapranata Catholic University (SCU), Dr. Ir. Christiana Retnaningsih, MP mengatakan koro memiliki karakteristik yang mendukung pengembangannya sebagai bahan pangan alternatif. Tanaman tersebut tidak membutuhkan air dalam jumlah banyak dan relatif tidak memerlukan banyak pestisida.

“Koro ini merupakan tanaman yang tidak mudah harus pestisida. Tidak butuh air dalam jumlah banyak,” ujarnya dalam Dialog Semarang Menyapa Pro 1 RRI Semarang, Senin, 24 Agustus 2026.

Menurut Christiana, karakter tersebut membuat koro berpeluang dikembangkan di daerah-daerah yang memiliki kondisi kering. Bahkan saat musim kemarau, tanaman koro masih dapat tumbuh, berproduksi, dan dipanen sehingga potensial mendukung ketersediaan pangan.

Koro juga dapat diolah menjadi berbagai produk pangan, di antaranya tempe, kecap, dan cake. Pemanfaatan tersebut dinilai membuka peluang bagi koro untuk menjadi bahan pangan lokal yang memiliki nilai tambah sekaligus alternatif terhadap kedelai.

Namun, pengolahan koro memiliki tantangan karena karakteristik bijinya berbeda dengan kedelai. Ukuran biji koro yang lebih besar membuat proses persiapan, termasuk perendaman, membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan kedelai.

Christiana menjelaskan salah satu cara yang dilakukan untuk mempercepat proses tersebut adalah menggiling biji koro terlebih dahulu hingga ukurannya lebih kecil. Setelah itu, proses perendaman dilakukan dengan mengganti air setiap 6-8 jam sehingga waktu pengolahan untuk menjadi tempe dapat dipersingkat.

“Proses perendaman untuk menjadi tempe menjadi lebih pendek. Hanya sekitar 24 jam, sehingga bisa dibuat menjadi tempe,” katanya.

Selain persoalan proses, koro memiliki kandungan HCN atau asam sianida yang perlu diperhatikan dalam pengolahannya. Christiana mengatakan kandungan tersebut merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tanaman terhadap hama dan penyakit, sekaligus menjadi salah satu alasan koro relatif tidak membutuhkan banyak pestisida.

Ia menegaskan koro tetap dapat dikonsumsi dengan aman apabila melalui proses preparasi yang tepat dan memenuhi batas kandungan yang dipersyaratkan. Oleh karena itu, pengembangan koro sebagai alternatif kedelai membutuhkan dukungan penelitian dan kolaborasi dengan industri agar proses pengolahan dapat diterapkan secara lebih efektif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....