Informasi Agama dari AI Perlu Diverifikasi, Tabayyun Tetap Jadi Kunci

  • 04 Agt 2026 10:32 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Kemudahan memperoleh informasi keagamaan melalui kecerdasan buatan (AI), perlu diimbangi dengan sikap kritis dalam memverifikasi setiap informasi yang diterima. Tanpa proses tabayyun atau pengecekan ulang, AI berpotensi menyajikan informasi yang keliru karena mengolah data dari beragam sumber di internet.

Menurut mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Semarang, Rayhan Fakhri Kurniawan, ketergantungan bisa dilihat ketika orang menjadi AI sebagai sumber tunggal pengetahuan. Yang lebih tepat adalah bagaimana menggunakan AI sebagai alat, untuk membantu mencari rujukan pembelajaran terutama mengenai agama.

“Kalau kita tahu referensi buku tersebut atau mendapat referensi pandangan, misal ada hadis ini yang diriwayatkan oleh imam ini dan ini shahih. Kemudian kita tahu dapetnya darimana dan ternyata dari AI, terus aku crosscheck itu artinya tidak bergantung,” ujarnya dalam program SPADA PRO 2 Semarang, Selasa, 28 Juli 2026.

Melakukan crosscheck sebelum menerima informasi mengenai ilmu agama dari AI, menjadi poin utama yang harus dilakukan seseorang saat mencari tahu informasi. Prinsip AI yang mengumpulkan informasi semata dari berbagai situs, membuatnya memiliki potensi kesalahan terhadap data yang di-generate dari hasil pencarian.

“Pada dasarnya AI dan mesin-mesin pencarian lainnya itu sama, mereka masih bisa berbuat salah. Makanya lebih baiknya dan seharusnya ketika kita dapat informasi dari AI kita crosscheck pribadi, jangan cuma percaya kalau ‘ini diambil dari buku ini’ atau paling amannya tanya ke teman atau ustadz yang mengerti,” kata Rayhan.

Rayhan menyebut ketika seseorang memilih berpatokan hanya pada AI, maka informasi yang didapatkan bisa jadi berpotensi salah. Oleh karena itu, proses tabayyun dalam mendapatkan informasi menjadi hal wajib yang perlu dilakukan ketika mendapat informasi.

“Kalau dalam konteks agama ini bergantungnya pada pengetahuan dan keimanan kita, karena bisa jadi yang keluar itu malah melencengkan kita dari keimanan dan akidah seharusnya. Apalagi kan AI ini sumbernya luas, bisa jadi ia menarik dari sumber yang salah,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....