Echo Chamber Picu Sikap Saling Curiga, Literasi Digital Jadi Kunci Pencegahan

  • 27 Jul 2026 14:30 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Literasi digital dinilai menjadi kunci untuk mencegah masyarakat terjebak dalam fenomena echo chamber di media sosial. Melalui kebiasaan melakukan tabayyun dan membuka diri terhadap berbagai sudut pandang, nilai-nilai moderasi beragama dapat tetap terjaga di tengah derasnya arus informasi digital.

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro, A'isy Nasywa, mengatakan fenomena echo chamber menjadi salah satu tantangan dalam membangun moderasi beragama. Menurutnya, kondisi tersebut dapat mengikis sikap tenggang rasa karena seseorang hanya menerima informasi yang sejalan dengan pandangannya sendiri.

"Echo chamber malah menjadikan kita saling curiga satu sama lain, kalau ada yang beda sama pandangan kita aja udah dicurigain. Alhasil rasa empati sosial kita menurun, akibatnya pun jadi gampang menyalahkan, membid’ahkan, bahkan bisa-bisa mengkafirkan pandangan yang lain tanpa diskusi atau tabayyun dulu," jelasnya dalam program SPADA PRO 2 Semarang, Selasa, 21 Juli 2026.

A'isy menilai maraknya video pendek dengan narasi provokatif di media sosial turut memperkuat terbentuknya echo chamber. Menurutnya, konten singkat yang menarik perhatian tetapi minim konteks berpotensi membentuk pemahaman yang keliru, terlebih jika telah dimanipulasi.

"Padahal belajar agama itu kan harus butuh proses, butuh adab dan kita harus tahu asbabun nuzul-nya dan latar belakangnya. Kalau kita hanya mengandalkan video yang biasanya satu menit itu bahaya banget, karena bisa mengurangi kedalaman ilmunya dan ini relate dengan teori framing dan agenda setting," ujarnya.

Ia menjelaskan terdapat perbedaan antara mempertahankan keyakinan dengan menutup diri terhadap pandangan yang berbeda. Seseorang yang masih terbuka untuk berdialog dan mendengarkan pendapat lain, menurutnya, belum dapat dikatakan terjebak dalam echo chamber.

"Tapi kalau kita sudah menutup diri, kalau kita denger pendapat yang berbeda kita langsung tutup telinga nggak mau dengerin. Kayak menganggap bahwa itu adalah sebuah ancaman, dan dia tuh takut gitu kalau misalnya malah diajak berargumen secara sehat," ucapnya.

Untuk menghindari fenomena tersebut, A'isy mengajak masyarakat memperkuat literasi digital dengan membiasakan tabayyun sebelum mempercayai maupun menyebarkan informasi. Selain itu, ia menyarankan agar masyarakat mengakses media yang kredibel dan tidak terpaku pada satu sumber informasi.

"Kalau aku biasanya buka media berita yang pastinya kredibel, dan barangkali perspektif dari media berita itu beda sama pandangan aku sendiri. Atau mungkin kalau dalam dakwah, misalnya aku sering dengerin kajian ustadz A nah suatu hari aku dengerin kajiannya ustadz B biar pandangan aku semakin luas," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....