Hari Kepercayaan Jadi Momentum Mengenal Keberagaman Keyakinan

  • 21 Jul 2026 09:01 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Penetapan Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dinilai menjadi momentum penting untuk mengenalkan keberagaman keyakinan yang telah lama tumbuh di Indonesia. Peringatan tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus memperkuat pelestarian budaya dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Staf Kementerian Keagamaan BEM KM Universitas Negeri Semarang(Unnes) 2026, NG. Gita Ayu Cahyani, mengatakan penetapan Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa memiliki nilai historis. Menurutnya, tanggal 13 Juli dipilih karena bertepatan dengan sidang BPUPKI pada 13 Juli 1945 yang menjadi bagian dari perjalanan panjang pengakuan terhadap keberagaman keyakinan di Indonesia.

"Orang jaman dahulu percayanya Tuhan itu ada, dan mereka memakai adat istiadat di daerahnya masing-masing. Di Jawa masih cukup familiar dengan Grebeg Suran dan lain sebagainya, itu adalah salah satu cara mereka menghormati Tuhan di jaman dahulu," ujarnya dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Selasa, 14 Juli 2026.

Anggi menjelaskan, keberadaan berbagai bentuk kepercayaan di Indonesia merupakan bagian dari sejarah yang diwariskan secara turun-temurun. Ia mencontohkan, masyarakat di daerah asalnya pernah menganut kepercayaan leluhur sebelum akhirnya beralih memeluk agama yang dianggap paling dekat dengan keyakinan yang mereka anut.

"Terus kalau nggak salah waktu tahun 80-an, ada edaran bahwa setiap warga negara Indonesia harus menganut agama yang mereka miliki. Akhirnya mereka menganut agama apa yang mendekati kepercayaan mereka, kalau di daerahku dulu yang mendekati agama Hindu sehingga mereka berbondong-bondong masuk Hindu," katanya.

Menurut Anggi, keberagaman keyakinan tidak bisa dilepaskan dari kekayaan adat istiadat dan budaya Nusantara. Oleh karena itu, penetapan Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa diharapkan menjadi pengingat pentingnya menjaga tradisi sebagai bagian dari identitas bangsa.

"Makanya dengan adanya Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, tradisi kita masih terjaga gitu. Masih akan lestari, karena ada kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Indonesia kaya akan budaya," katanya.

Ia juga menilai masih banyak masyarakat yang keliru memandang penghayat kepercayaan sebagai kelompok yang tidak memiliki agama. Menurutnya, stigma tersebut muncul akibat kurangnya pemahaman sehingga memunculkan prasangka negatif terhadap kelompok tertentu.

"Mungkin doktrin-doktrin kayak mereka nggak punya agama, oh mereka tuh menyembahnya berhala. Itu yang membuat pandangan negatif terhadap suatu umat, atau suatu kelompok gitu," tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....