Kembangkan Kesenian Tradisional, Wayang Orang Ngesti Pandowo Eksis Lewat Inovasi

  • 04 Jun 2026 11:07 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang- Wayang Orang Ngesti Pandowo terus melakukan berbagai inovasi untuk mempertahankan eksistensinya sekaligus mendukung perkembangan pariwisata berbasis budaya di Kota Semarang. Berbagai inovasi pengembangan dilakukan agar kesenian tradisional tersebut tetap relevan dan diminati masyarakat, khususnya generasi muda.

Ketua Perkumpulan Wayang Orang Ngesti Pandowo, Djoko Moeljono, mengatakan hubungan antara seni tradisional dan pariwisata sangat erat. Menurutnya, pelaku seni harus mampu mengikuti perkembangan zaman agar tetap menjadi bagian dari daya tarik wisata budaya.

"Memang kita erat kaitannya dengan dengan kepariwisataan kita di sini, dengan berbagai program. Ada go to school ya, go to kampus, go to mall dan bahkan go to Netherlands juga ini yang sudah dilakukan ya," tuturnya, dalam dialog bersama RRI Semarang, Senin, 1 Juni 2026.

Ia menjelaskan, Ngesti Pandowo terus melakukan berbagai inovasi untuk mempertahankan eksistensi wayang orang di tengah perkembangan zaman. Upaya tersebut antara lain melalui penjualan tiket secara daring, promosi aktif di media sosial, serta penyesuaian durasi pertunjukan menjadi sekitar dua jam agar lebih sesuai dengan kebiasaan dan kebutuhan penonton saat ini.

Selain itu, Ngesti Pandowo menjalin kerja sama dengan pelaku industri pariwisata untuk menjadikan pertunjukan wayang orang sebagai salah satu agenda wisata budaya di Kota Semarang. Wisatawan yang berkunjung ke destinasi populer seperti Kota Lama Semarang dan Lawang Sewu turut diajak menyaksikan pertunjukan sebagai bagian dari pengalaman wisata mereka.

Ia juga mengatakan, strategi promosi digital yang dilakukan bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang terbukti mampu meningkatkan minat masyarakat untuk menonton wayang orang. Hal itu terlihat dari komposisi penonton yang hadir dalam pertunjukan rutin setiap akhir pekan, yang kini didominasi oleh kalangan muda dan mahasiswa.

"Banyak turis-turis dari manca negara itu melihat Ngesti Pandowo, makanya durasi waktunya itu tidak seperti tahun sebelum tahun '80-an, ya. Jadi sekarang durasi waktunya itu sekitar 2 jam, bahkan kadang-kadang kalau ada permintaan satu jam itu juga bisa," ujarnya.

Untuk menjangkau penonton yang lebih beragam, Ngesti Pandowo juga menyediakan teks dialog dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang ditampilkan melalui layar pendukung selama pertunjukan berlangsung. Fasilitas tersebut memudahkan penonton yang tidak memahami bahasa Jawa, sehingga pertunjukan dapat dinikmati oleh masyarakat dari berbagai daerah maupun wisatawan mancanegara.

"Ini kami baru pulang dari negeri Belanda Itu kami rombongan 15 orang, wayang orang Ngesti Pandowo Goes to Netherlands selama 14 hari. Ternyata, sambutan dari masyarakat Belanda itu senang sekali, luar biasa," ujarnya.

Di sisi lain, regenerasi menjadi perhatian penting dalam pelestarian wayang orang. Ngesti Pandowo menggandeng berbagai sekolah, perguruan tinggi, dan sanggar seni untuk melibatkan generasi muda dalam kegiatan seni pertunjukan, baik sebagai pemain maupun pengrawit.

Ia berharap pemerintah terus memberikan dukungan terhadap pelestarian wayang orang sebagai warisan budaya bangsa. Dengan kolaborasi antara seniman, masyarakat, dan pemerintah, ia optimistis wayang orang dapat terus berkembang sekaligus menjadi salah satu ikon wisata budaya Kota Semarang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....