Moderasi Belum Cukup, FKUB Dorong Restorasi Beragama untuk Perkuat Kerukunan

  • 02 Jun 2026 12:09 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Upaya memperkuat kerukunan umat beragama di Indonesia dinilai tidak cukup hanya melalui penguatan moderasi beragama. Masyarakat juga perlu mengembangkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari melalui apa yang disebut sebagai restorasi beragama.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) se-Indonesia, Taslim Syahlan, mengatakan moderasi beragama sejatinya bukan konsep baru. Namun, pendekatan tersebut terus relevan untuk menjawab dinamika kehidupan masyarakat yang semakin beragam dan kompleks.

Menurutnya, moderasi beragama selama ini bertumpu pada empat indikator utama, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, sikap nir kekerasan, serta penghormatan terhadap budaya dan kearifan lokal. Keempat indikator tersebut menjadi landasan dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis di tengah kemajemukan bangsa.

“Toleransi itu dalam pengertian toleransi yang aktif. Bukan hanya toleransi yang pasif,” kata Taslim dalam dialog Semarang Menyapa Pro 1 RRI Semarang, Selasa, 2 Juni 2026.

Ia mengakui bahwa dalam kehidupan bermasyarakat masih terdapat berbagai faktor yang berpotensi memicu gesekan, baik di internal maupun antarumat beragama. Persoalan seperti perbedaan pandangan keagamaan hingga polemik rumah ibadah masih sesekali muncul di sejumlah daerah.

Meski demikian, Taslim menilai mayoritas masyarakat Indonesia tetap memilih untuk menjaga kerukunan dan menghormati hak setiap warga dalam menjalankan ibadah. Menurutnya, masyarakat semakin menyadari bahwa perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menciptakan konflik.

“Mayoritas dari kita ini selalu berpihak pada, janganlah orang berbeda lalu jadi gegeran. Orang berdoa itu baik,” ujarnya.

Ia pun mendorong konsep restorasi beragama sebagai langkah lanjutan dari moderasi beragama. Restorasi beragama diwujudkan melalui aktivitas sosial yang mempererat hubungan antarpemeluk agama, seperti saling berkunjung saat hari raya, berdialog, hingga membangun komunikasi yang hangat tanpa memperdebatkan keyakinan masing-masing.

Taslim mencontohkan praktik tersebut telah dilakukan di berbagai daerah, termasuk saat perayaan Waisak di Semarang. Sejumlah tokoh dan umat dari berbagai agama hadir untuk memberikan ucapan selamat kepada umat Buddha setelah rangkaian ibadah berlangsung sebagai bentuk penghormatan dan persaudaraan.

“Moderasi beragama itu harus ditindaklanjuti dengan restorasi beragama. Saling berkunjung, menyapa, ngopi bareng, ngobrol santai, tidak berdebat tetapi saling belajar dan saling mendengar,” katanya.

Ia berharap praktik-praktik sederhana tersebut terus diperluas di tengah masyarakat. Dengan memperkuat hubungan sosial antarumat beragama, kerukunan yang selama ini terjaga dapat semakin kokoh dan menjadi modal penting bagi terciptanya kehidupan yang damai di Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....