Literasi Digital Jadi Kunci Cegah Ujaran Kebencian di Media Sosial

  • 26 Mei 2026 08:26 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Literasi digital diyakini menjadi salah satu cara mencegah terjadinya ujaran kebencian, terutama dalam konteks agama dan keberagaman. Interaksi dan potongan video yang memicu respon emosional secara berlebihan, menjadikan pentingnya filtrasi dan pengetahuan bermedia sosial menjadi hal penting saat ini.

Menurut Sekretaris Umum Lembaga Pers Mahasiswa Islam Semarang, Hazel Jasmi, literasi digital cukup penting sebagai kebutuhan generasi muda. Apalagi, melihat derasnya informasi saat ini, menurutnya generasi muda tidak hanya membutuhkan pengetahuan mengenai cara menggunakan gawai semata.

“Literasi digital jadi kebutuhan dasar di era kita sekarang, kita hidup di era informasi soal agama bisa beredar tiap detik tanpa filter. Kalau masyarakat tidak punya kemampuan memilah informasi, menurutku sangat akan mudah terprovokasi terhadap konten yang menyudutkan kelompok tertentu,” ujarnya dalam program SPADA Pro 2 RRI Semarang, Selasa, 19 Mei 2026.

Interaksi masyarakat mengenai isu keberagaman sendiri, dipandang Hazel terkadang sedikit memprihatinkan. Lantaran masih banyak diskusi mengenai agama dan keberagaman yang dengan cepat memanas, akibat perbedaan pandangan yang sebenarnya dirasa cukup wajar.

“Padahal komentar itu kan belum tentu paham konteks sepenuhnya, ada juga kecenderungan orang lebih mudah reaktif daripada reflektif. Akan tetapi, aku ngelihat juga banyak anak muda tersadarkan untuk menyebar konten yang lebih adem, terus juga menjembatani antara perbedaan yang ada di masyarakat,” ucapnya.

Agama sebagai identitas pribadi seseorang, menurut Hazel menjadi salah satu faktor mengapa respons emosional dalam isu agama kerap terjadi. Selain itu, algoritma media sosial ditambah dengan hilangnya konteks komunikasi yang jelas, membuat munculnya kesalahpahaman yang terjadi di media sosial.

“Dampaknya sangat besar, karena potongan video itu bisa menyerang persepsi dengan cara yang sangat visual dan emosional. Potongan video yang diedit itu bisa mengubah sepenuhnya konteks yang terjadi, salah satu video yang salah kaprah bisa membuat banyak orang membenci satu agama,” ujar Hazel.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....