BUMDes Menara Karangduren Dongkrak PADes Lewat Budidaya Selada Premium

  • 13 Mei 2026 10:58 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Kabupaten Semarang – BUMDes Menara Karangduren di Desa Karangduren, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang mulai meraup hasil dari pengembangan usaha budidaya selada hidroponik premium. Program ketahanan pangan yang dikembangkan sejak 2025 itu kini mulai memberikan dampak nyata bagi perekonomian desa.

BUMDes bernama Menuju Masyarakat Sejahtera (Menara) tersebut mengembangkan sejumlah bidang usaha, mulai dari pengelolaan pasar tradisional, persewaan sound system dan alat berat, hingga sektor ketahanan pangan. Salah satu fokus utama yang kini berkembang adalah budidaya selada premium dengan sistem hidroponik dan aquaponik di dalam green house milik desa.

Kepala Desa Karangduren, Muhamad Noor Majid mengungkapkan, keberadaan BUMDes menjadi salah satu pilar pembangunan ekonomi desa dalam konsep “Bersatu dalam Harmoni, Maju dalam Pembangunan”. Pemerintah desa terus mendorong pertumbuhan BUMDes sejak berdiri pada 2018.

"Sejak berdiri sejak tahun 2018 lalu, Bumdes Menara Alhamdulillah terus berkembang. Sampai saat ini sudah ada beberapa bidang usaha di dalamnya," katanya, Selasa, 12 Mei 2026.

Menurut Noor Majid, pada 2025 BUMDes memanfaatkan program ketahanan pangan dari alokasi 20 persen Dana Desa untuk mengembangkan sistem green house. Usaha tersebut difokuskan pada budidaya selada varietas premium dengan metode hidroponik dan aquaponik, serta dipadukan dengan budidaya ikan nila di area yang sama.

"Fokus utama di BUMDes ini adalah budidaya selada varietas premium. Ditambah dengan berbagai jenis tanaman sayuran lainnya dan budidaya ikan nila yang kami kelola di sebuah green house yang berdiri di lahan milik desa," katanya.

Pantauan di lokasi, penanaman selada dilakukan di dalam green house seluas sekitar 300 meter persegi. Selain ditanami sayuran, di dalam area tersebut juga terdapat kolam ternak ikan yang menjadi bagian dari sistem aquaponik.

Pengelolaan maksimal BUMDes di berbagai sektor usaha itu kini mulai membuahkan hasil. Noor Majid menyebut, usaha-usaha BUMDes mampu menyumbang sekitar 60 persen terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes).

Hal itu menjadikan Karangduren sebagai desa dengan PADes tertinggi dari sektor BUMDes di Tengaran. “Nilai ini berharga sekali buat kami, di kondisi krisis fiskal yang terjadi," ujarnya.

Pengurus BUMDes Menara, Eko Prasetyo dan Rahmad Arif mengakui, meski usaha budidaya selada hidroponik baru berjalan sejak 2025, hasilnya mulai dirasakan setelah panen perdana berhasil dilakukan. Selada premium Karangduren memiliki ukuran lebih besar, daun lebih lebar, bobot lebih berat, serta rasa manis dan renyah dibanding jenis lokal.

"Kelebihan Selada kami berukuran besar dari selada pada umumnya atau jenis lokal, lalu daunnya lebar, bobotnya juga lebih berat ketimbang selada lokal, serta memiliki cita rasa yang manis menyegarkan, renyah. Alhamdulillah, selada Karangduren ini banyak diburu masyarakat," ungkap Eko.

Permintaan selada premium Karangduren kini datang dari berbagai daerah, termasuk hingga Jember, Jawa Timur yang menjadi pelanggan tetap. Produksi per bulan mencapai 400–500 kilogram, sementara permintaan mingguan berkisar 100–200 kilogram.

"Permintaan per minggunya bisa 100 sampai 200 kilogram. Kami belum bisa maksimal dalam memenuhi permintaan pasar akan selada hidroponik ini," ungkapnya.

Eko menyebut, harga selada premium di Karangduren dipatok Rp25 ribu per kilogram berisi lima hingga enam bonggol. Sementara di Jember, harga jualnya bisa mencapai Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.

Sementara itu, Camat Tengaran, Sri Sulistyorini menilai BUMDes Menara Karangduren menjadi contoh nyata unit usaha desa yang berhasil berkembang dan produktif. “Dari 15 Bumdes yang ada saat ini, Menara sudah terbukti mampu melakukan usaha produktif, kami mendorong Bumdes lain bisa mengikuti,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....