Semarang Peringkat Tiga Kota Toleran, Cerminan Modal Sosial Masyarakat

  • 05 Mei 2026 07:21 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Kota Semarang belum lama ini dinobatkan sebagai peringkat ketiga dalam Indeks Kota Toleran, yang dikeluarkan oleh SETARA Institute. Berjalannya kehidupan bermasyarakat yang toleran di tengah perbedaan, salah satunya berasal dari modal sosial yang dimiliki oleh masyarakat Kota Semarang.

Menurut Abdullah Yusuf Azzam selaku Menteri Keagamaan BEM KM Universitas Negeri Semarang(Unnes) 2026, hal ini tidak hanya sekadar angka atau peringkat. Namun, capaian tersebut adalah cermin sosial dari masyarakat Kota Semarang, yang berasal dari praktik baik yang sudah dilakukan mengenai toleransi.

“Jadi mungkin bagi warga Kota Semarang sendiri atau yang menjadi mahasiswa disana, ini penting karena bisa jadi kebanggaan. Sekaligus pengingat toleransi itu bukan sesuatu yang otomatis, namun harus dijaga bersama,” ucapnya dalam program siaran SPADA PRO 2 Semarang, Selasa, 28 April 2026.

Yusuf menilai hal ini juga menjadi tanggung jawab masyarakat, untuk tetap bersikap toleran dalam lingkungan sehari-hari. Apalagi nilai toleransi yang ada di kehidupan masyarakat Kota Semarang cukup terasa dalam berbagai bentuk kegiatan atau dalam nilai kehidupan bermasyarakat.

“Misalnya seperti ruang-ruang dialog terbuka, kan banyak itu dari mahasiswa yang menyelenggarakan dialog tersebut dan juga dari temen-temen yang latar belakang berbeda bisa berinteraksi tanpa sekat. Tapi toleransi juga terasa dari hal-hal kecil, seperti cara kita menghargai waktu ibadah, atau tidak memaksakan pandangan,” ujar Yusuf.

Menurutnya ada beberapa modal sosial yang dimiliki Kota Semarang, sehingga bisa menjadi salah satu kota yang toleran. Salah satunya adalah budaya “tepa selira” atau tenggang rasa, yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Kota Semarang dalam bermasyarakat.

“Selain itu keberagaman yang sudah lama hidup berdampingan, serta peran tokoh agama ataupun institusi atau organisasi agama yang relatif moderat. Ditambah lagi dengan ruang publik yang cukup inklusif, jadi toleransi itu bukan tiba-tiba ada namun proses yang panjang,” ujar Yusuf.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....