Tantangan Keberlanjutan Desa Wisata di Jawa Tengah, Ini Kata Akademisi
- 30 Apr 2026 08:16 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID., Semarang- Desa wisata kini menjadi salah satu andalan pengembangan pariwisata di berbagai daerah, termasuk Jawa Tengah. Kehadiran desa wisata tidak hanya menawarkan destinasi alternatif, tetapi juga diharapkan mampu mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Namun, di balik pertumbuhannya yang pesat, muncul fenomena paradoks antara kuantitas dan kualitas desa wisata. Banyak desa wisata bermunculan, tetapi tidak semuanya mampu bertahan dalam jangka panjang.
Pengamat pariwisata Universitas Semarang, Muhammad Satrio, menyebut, belum semua yang dilabeli desa wisata benar-benar memenuhi kriteria. Salah satu indikator utama desa wisata adalah keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaannya.
Menurutnya, saat ini memang banyak desa wisata baru yang tumbuh, tetapi yang mampu berkelanjutan jumlahnya masih terbatas. Banyak di antaranya hanya berkembang sesaat dan kemudian mengalami penurunan karena belum dikelola secara optimal.
"Sekarang memang cukup banyak yang tumbuh, ya desa wisata baru, namun yang bisa berlanjut, bisa bertahan sampai lama mungkin belum banyak. Jadi hanya tumbuh sesaat namun ke belakangnya sepertinya masih perlu poles-polesan yang cukup banyak," ujarnya, Rabu, 29 April 2026.
Ia menegaskan, partisipasi masyarakat menjadi kunci utama dalam pengembangan desa wisata. Rendahnya kesadaran wisata dan keterlibatan warga dapat menjadi hambatan serius dalam menjaga keberlangsungan destinasi tersebut.
“Apabila kesadaran wisata atau partisipasi di masyarakat belum cukup tinggi, itu juga bisa menjadi salah satu faktor yang menghambat dari pertumbuhan desa wisata. Sadar wisata dari masyarakat itu menjadi salah satu langkah awal dalam pengembangan, khususnya desa wisata,” ujarnya.
Selain itu, kualitas sumber daya manusia juga menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan desa wisata. Masyarakat sebagai pengelola utama harus memiliki komitmen dan kemampuan dalam mengelola potensi yang dimiliki desa.
“Saya sering berkunjung ke Desa Wisata Ngelanggeran, itu bisa dikatakan sudah rapi, semua pengelolaan itu dikelola oleh Pokdarwis. Namun, Pokdarwis tidak sendiri, dibantu oleh kelompok tani wanita, kelompok pemuda, dan semua yang menjadikan masyarakat itu pelaku utamanya,” ucapnya.
Di sisi lain, tren viral di media sosial kerap menjadi pemicu meningkatnya kunjungan wisatawan. Namun, ia mengingatkan bahwa popularitas sesaat tidak menjamin keberlanjutan jika tidak diimbangi dengan pengelolaan yang baik.
Ia menilai desa wisata seharusnya tidak hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga memperhatikan kualitas wisatawan dan lama tinggal. Hal ini penting agar manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Namun, menurutnya, pertanyaan selanjutnya ialah apakah dari keviralan itu bisa berlanjut sampai tahap yang lama. Dengan demikian, manfaatnya bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.
"Contoh simpelnya adalah apakah desa wisata ingin memperoleh keuntungan Rp100.000.000 dalam hanya 2 bulan atau memilih Rp3-4 juta tapi selama bertahun-tahun. Itulah yang menjadi PR dari kita semua ya," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....