Cegah Gagal Panen, Sekolah Lapang Iklim Kopi di Kabupaten Pekalongan Diluncurkan

  • 30 Apr 2026 05:01 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Cegah Ancaman Gagal Panen, Sekolah Lapang Iklim Kopi Diluncurkan
  • Bank Indonesia dampingi Sekolah Lapang Iklim Kopi

RRI.CO.ID, Pekalongan – Ancaman nyata perubahan iklim terhadap sektor kopi di Kabupaten Pekalongan akhirnya dijawab dengan langkah konkret melalui peluncuran Program Sekolah Lapang Iklim Kopi, Rabu 29 April 2026. Langkah ini sebagai strategi adaptif menghadapi potensi gagal panen yang kian mengkhawatirkan.

Di tengah tekanan perubahan iklim yang kian ekstrem, petani kopi di Kabupaten Pekalongan kini mendapat dukungan melalui Program Sekolah Khusus. Sekolah Lapang Iklim Kopi menjadi upaya meningkatkan kemampuan petani dalam membaca pola cuaca dan menjaga produktivitas hasil panen.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, Sukirman mengatakan, program yang digelar di La Ranch Glamping ini bukan sekadar seremoni. Pemerintah Kabupaten Pekalongan menggandeng Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Tegal serta Mercy Corps Indonesia untuk memperkuat kapasitas petani dari hulu hingga hilir.

"Kondisi cuaca saat ini tak bisa lagi diabaikan. Perubahan iklim ekstrem telah menggerus produktivitas kopi secara signifikan, dengan estimasi risiko gagal panen mencapai 45 hingga 50 persen," ucapnya.

Sukirman menilai, selama ini petani masih terjebak pada pola lama, menjual biji mentah tanpa pengolahan. Padahal, peluang pasar global justru terbuka lebar untuk produk kopi olahan dengan standar kualitas tinggi.

“Kita tidak ingin pembangunan berbasis asumsi, semua harus berbasis data. Oleh karena itu, kolaborasi ini juga melibatkan akademisi agar kebijakan benar-benar tepat sasaran,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Kantor Perwakilan Wilayah (KPw) Bank Indonesia Tegal, Bimala menyampaikan, pihaknya akan terus mendampingi terlaksananya Program Sekolah Lapang iklim ini bersama Pemerintah Kabupaten Pekalongan. Harapannya ini menjadi langkah terbaik untuk mencegah menurutnya produksi karena gagal panen.

"Ini menjadi win-win solusi bagi Pemerintah Kabupaten Pekalongan. Bank Indonesia akan mendampingi setiap prosesnya," katanya.

Lebih jauh, program ini juga diarahkan untuk mendorong transformasi kelompok tani dan UMKM menjadi unit usaha mandiri. Dengan demikian, mereka mampu bersaing di pasar global.

Sementara itu, Program Manager Zurich Climate Resilience Alliance, Fausan Rahman, menegaskan Sekolah Lapang Iklim Kopi dirancang sebagai solusi praktis, bukan teoritis. Petani akan belajar langsung di kebun, mulai dari membaca data cuaca dari BMKG, memilih bibit tahan iklim ekstrem, hingga teknik pemupukan dan pengeringan berbasis teknologi.

“Ini bukan sekolah di kelas. Ini pembelajaran berbasis praktik agar petani benar-benar siap menghadapi perubahan,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....