Fokus Perkuat Link and Match dan Pelatihan Kerja untuk Tekan Pengangguran
- 24 Apr 2026 08:15 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang- Kondisi ketenagakerjaan di Jawa Tengah menunjukkan tren positif dengan angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang terus menurun di bawah rata-rata nasional. "Alhamdulillah kalau kita melihat dari sisi pengangguran, TPT Jawa Tengah ini relatif rendah di bawah TPT nasional, yakni turun menjadi 4,32 persen pada November 2025," ujar Ahmad Aziz Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jateng dalam Dialog Semarang Menyapa Pro 1 RRI Semarang. (24/042026)
Menurutnya, penurunan ini didukung oleh dominasi investasi padat karya di wilayah seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB). "Investasi kita didominasi oleh investasi padat karya yang banyak menyerap tenaga kerja, termasuk di sektor alas kaki dan garmen," jelasnya.
Terkait tantangan lulusan baru, Aziz menyoroti adanya jeda usia antara lulusan sekolah (15 tahun) dan batasan usia kerja sesuai undang-undang (18 tahun). Untuk itu pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menyediakan ribuan fasilitas pelatihan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) hingga Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) swasta.
"Kami memiliki fasilitas di BLK pusat, kabupaten, hingga 1.000 lebih LPK untuk memberikan bekal kompetensi maupun soft skill bagi anak-anak," tambahnya.
Selain penempatan dalam negeri, Disnakertrans juga memfasilitasi warga yang ingin berkarier di luar negeri sesuai regulasi perlindungan pekerja migran. "Setiap tahunnya ada sekitar 50 sampai 70 ribu warga Jawa Tengah yang bekerja ke luar negeri, termasuk program magang ke Jepang," tutur Aziz.
Program Magang Nasional bagi mahasiswa dan lulusan baru juga menjadi salah satu pilar penguatan kualitas tenaga kerja di Jawa Tengah. "Jawa Tengah menjadi peserta tertinggi untuk Magang Nasional dengan 5.000 mahasiswa fresh graduate yang terserap di berbagai perusahaan," paparnya.
Aziz mengakui bahwa soft skill seperti ketahanan mental dan kedisiplinan masih menjadi tantangan utama yang harus dibenahi. "Tantangan kita adalah membekali anak-anak dengan soft skill dan ketahanan mental agar mereka siap menghadapi dunia kerja pascapandemi," tegasnya.
Terakhir, ia menekankan pentingnya reskilling atau pelatihan ulang bagi lulusan yang ingin bekerja di bidang yang tidak linear dengan pendidikannya. "Kita mendukung adanya reskilling, seperti lulusan administrasi yang mengikuti pelatihan barista agar bisa berwirausaha atau bekerja di sektor perhotelan," pungkas Aziz.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....