Pengelolaan Sampah Jateng Tembus 30 Persen, Praktik Open Dumping Berkurang
- 14 Apr 2026 16:15 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Pengelolaan sampah di Jawa Tengah mencatat capaian signifikan dengan angka mencapai 30 persen. Peningkatan ini berdampak pada berkurangnya praktik pembuangan sampah terbuka (open dumping) di berbagai wilayah.
Capaian tersebut diperkuat dengan langkah strategis Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui pengembangan sistem pengolahan sampah berbasis aglomerasi. Pendekatan ini dinilai mampu mempercepat penanganan sampah secara terintegrasi lintas daerah.
Komitmen itu ditunjukkan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama tujuh kepala daerah di Pekalongan Raya dan Tegal Raya saat menandatangani kesepahaman dengan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq di Jakarta, Senin 13 April 2026. Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari upaya nasional dalam menekan praktik open dumping yang masih terjadi di sejumlah daerah.
Aglomerasi Pekalongan Raya melibatkan Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang, dan Kabupaten Batang. Sementara itu, aglomerasi Tegal Raya mencakup Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Brebes.
Dengan tambahan dua kawasan tersebut, Jawa Tengah kini memiliki tiga aglomerasi pengolahan sampah regional. Sebelumnya, konsep serupa telah lebih dulu diterapkan di wilayah Semarang Raya.
Gubernur Ahmad Luthfi meminta seluruh pihak segera mengeksekusi program pengolahan sampah di wilayah aglomerasi. Selain itu, Pemprov Jateng terus mengembangkan teknologi pengolahan seperti refuse derived fuel (RDF) di sejumlah daerah untuk mengurangi ketergantungan pada metode pembuangan konvensional.
Pemerintah juga memperkuat pengelolaan dari hulu dengan membentuk Satgas Sampah hingga tingkat desa dan kelurahan. Upaya tersebut dipadukan dengan penyusunan roadmap menuju target zero waste pada 2029.
Berbagai strategi lain turut dijalankan. Mulai dari pengurangan sampah berbasis kearifan lokal hingga transformasi tempat pembuangan akhir menjadi fasilitas pengolahan modern.
Gerakan Jawa Tengah ASRI juga digencarkan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat. “Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana memilah dan memilih sampah sejak dari sumbernya,” ujar Luthfi.
Sementara, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut sistem ini berpotensi mengurangi sampah hingga 3.000 ton per hari secara nasional. Angka tersebut turut menekan timbulan sampah Jawa Tengah yang mencapai sekitar 17.300 ton per hari.
Ia juga mengapresiasi kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dinilai progresif dalam menangani persoalan sampah. Capaian 30 persen, menurutnya, telah melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 26 persen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....