Reorientasi Gerakan Mahasiswa dari Perspektif PMKRI Cabang Semarang

  • 17 Mar 2026 11:36 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Berdasarkan tren data beberapa tahun terakhir, jumlah mahasiswa di Kota Semarang diperkirakan mencapai lebih dari 250 ribu orang. Hal ini disampaikan Ketua Presidium PMKRI Cabang Semarang, Ramanda Bima Prayuda dalam siaran Sore Ceria PRO 2 Semarang (17/03/26).

“Seyogyanya dengan kuantitas yang banyak ini gerakan mahasiswa sungguh berdampak, linear dengan kualitasnya”, kata Bima. Banyak hal-hal yang perlu dikritisi dan perlu direfleksikan karena gerakan mahasiswa saat ini cenderung hanya reaktif saja.

Gerakan mahasiswa sebagai kekuatan moral, dan mahasiswa itu sendiri yang digadang-gadang sebagai agen perubahan menghadapi tantangan serius. Ada tiga tantangan yaitu pragmatis, individualis dan melemahnya kesadaran kolektif mahasiswa itu sendiri, khususnya mahasiswa di Kota Semarang.

“Mahasiswa sebagai agent of change jangan reaktif saja, akan lebih baik ketika disesuaikan dengan keberlanjutannya”, ujarnya. Dalam hal ini tentu saja tidak bisa bergerak sendiri, perlu adanya kesadaran kolektif dari mahasiswa.

Disaat kesadaran itu belum terbangun, gerakan-gerakan yang ada selama ini hanya bersifat insidental sehingga kurang berdampak langsung. Padahal yang sebenarnya dibutuhkan adalah dampak langsung bagi rakyat.

Kita tidak bisa memisahkan antara gerakan mahasiswa ataupun gerakan rakyat. Karena sejatinya mahasiswa adalah bagian dari rakyat itu sendiri.

“Ketika ada gerakan mahasiswa, bukan terfokus pada mahasiswa saja tetapi mahasiswa yang menjadi bagian dari rakyat” kata Bima. “Jadi apa yang digagas, apa yang dibawakan murni dari kepentingan rakyat secara umum”, tambahnya.

Dengan berbagai fenomena yang terjadi saat ini, tentu saja mahasiswa dituntut untuk berperan aktif. Disinilah reorientasi gerakan mahasiswa menjadi jawaban dari tantangan zaman.

Di Kota Semarang sendiri cukup banyak catatan, seperti pengangguran terbuka ada kurang lebih 5,65% atau 56 ribu jiwa. Belum lagi permasalahan banjir ataupun rob, kemudian juga terkait krisis kepercayaan publik.

Hal ini perlu refleksi bersama dan perlu dukungan demi perubahan menuju lebih baik. Disinilah peran penting dari gerakan mahasiswa yang di reorientasikan agar bersama-sama bergerak.

Dalam hal ini mahasiswa bukan berseberangan dengan pemerintah, tetapi bersatu menciptakan Kota Semarang menuju lebih baik. “Seperti tagline dari Walikota Semarang sendiri, Menuju Semarang Semakin Hebat”, tutup Bima.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....