Ketahanan Pangan dan Peran Pemuda sebagai Agen Perubahan

  • 02 Mar 2026 17:15 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Ketahanan pangan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat, terutama petani sebagai garda terdepan. Hal itu disampaikan Maulana Azhar Adipraja (Alan), seorang penyuluh pertanian, dalam siaran SPADA PRO 2 RRI Semarang, Senin (2/3/26).

Menurut Alan, tantangan pertanian hari ini tidak hanya soal cuaca ekstrem dan alih fungsi lahan, tetapi regenerasi petani. Ia menyebut mayoritas petani saat ini berada pada rentang usia 35 hingga 50 tahun.

“Ancaman terberat kita sebenarnya adalah regenerasi. Kalau anak muda tidak mau masuk ke sektor pertanian, siapa yang akan melanjutkan produksi pangan kita ke depan?” ujar Alan.

Ia menjelaskan, perubahan pola pikir petani senior yang masih menggunakan cara-cara konvensional memang membutuhkan proses panjang. Namun, kehadiran petani milenial dinilai mampu menjadi jembatan transformasi menuju pertanian modern.

“Petani milenial biasanya lebih terbuka terhadap teknologi dan inovasi. Insight atau gagasan baru lebih mudah diterima ketika disampaikan oleh sesama generasi muda,” katanya.

Alan mendorong lahirnya agripreneur muda yang mampu menjadi entrepreneur dan bahkan konten kreator pertanian. Menurutnya, sektor pertanian kini memiliki potensi ekonomi yang besar jika dikelola secara kreatif dan adaptif terhadap perkembangan digital.

Sebagai penyuluh pertanian, Alan sendiri aktif memanfaatkan media sosial untuk mengedukasi petani dan generasi muda. Kontennya membahas penggunaan pupuk yang tepat, penentuan musim tanam, hingga motivasi dan penguatan kelembagaan kelompok tani.

Ia berharap semakin banyak pemuda yang melihat pertanian sebagai profesi masa depan yang modern, menguntungkan, dan berkelanjutan. Modernisasi pertanian, menurutnya, bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan demi menjaga ketahanan pangan Indonesia.

Rekomendasi Berita