Jateng Panen Raya 3,35 Juta Ton, Naik 14 Persen

  • 20 Feb 2026 14:56 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Di tengah musim penghujan, kabar gembira dirasakan petani Jawa Tengah yang berhasil pada panen raya periode Januari–Maret 2026. Produksi diperkirakan mencapai 3,35 juta ton gabah kering giling (GKG) atau naik sekitar 14 persen dibanding periode sama tahun lalu.

Panen raya secara simbolis dipusatkan di Desa Jambu, Kabupaten Semarang, dan dipimpin Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Jumat 20 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi penanda optimisme sektor pertanian Jateng memasuki musim tanam 2026.

"Tahun 2025 kemarin kita bisa dapat kontribusi 15% untuk nasional, tahun 2026 harus lebih meningkat," katanya usai mengawali panen raya didampingi oleh Bupati Semarang Ngesti Nugraha dan Kepala Bulog Jateng Sri Muniati.

Perkiraan produksi tersebut berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area Badan Pusat Statistik Jawa Tengah. Kenaikan mencapai 413.698 ton GKG dibandingkan periode Januari–Maret 2025.

Luthfi menegaskan, arah kebijakan 2026 difokuskan pada swasembada pangan. Target luas tanam padi sepanjang tahun ini ditetapkan 2,38 juta hektare dengan proyeksi produksi 10,55 juta ton GKG.

Hingga 18 Februari 2026, realisasi tanam telah mencapai 216.098 hektare. Pemerintah provinsi menargetkan kontribusi produksi Jateng terhadap nasional meningkat dari 15 persen pada 2025.

Untuk mengejar target tersebut, gubernur menginstruksikan penguatan konektivitas dengan 35 kabupaten/kota. Pendampingan dilakukan mulai dari pembibitan, pemupukan, mekanisasi alat, hingga pascapanen melalui penguatan Gapoktan.

Dalam panen raya kali ini, diperkenalkan sistem mekanisasi “sepur” yang mempercepat siklus panen dan tanam. Sistem ini mengintegrasikan combine harvester, pengolah tanah, penyemprot dekomposer, dan mesin tanam dalam satu rangkaian kerja.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jateng, Defransisco Dasilva Tavares menyebut sistem sepur mampu memangkas waktu hingga 90 persen dibanding cara manual. Pengolahan lahan dua hektare yang biasanya memakan waktu 10 hari dapat diselesaikan dalam sehari.

"Saking berurutan seperti sepur atau kereta, ini mempersingkat waktu, jadi panen-tanam, panen-tanam. Sistem ini untuk optimalisasi lahan, petani di sini susah kami latih," katanya.

Uji ubinan menunjukkan produktivitas rata-rata 6 ton per 25 meter persegi, dengan potensi maksimal 9,6 ton per hektare. Optimalisasi lahan, irigasi, dan pemupukan menjadi faktor kunci menjaga tren peningkatan produksi padi di Jawa Tengah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....