Negara Kaya Sumber Daya Mengapa Rakyat Miskin?
- 14 Mei 2025 14:19 WIB
- Saumlaki
KBRN, Saumlaki: Negara dengan minyak,gas,tambang melimpah tak selalu menjamin kemakmuran rakyat secara menyeluruh dan berkelanjutan. Kondisi ini banyak ditemukan di sejumlah negara yang sebenarnya memiliki kekayaan alam secara luar biasa.Alih alih mensejahterakan warganya,kekayaan tersebut justru memicu ketimpangan,korupsi,bahkan konflik berkepanjangan.Fenomena ini mendorong para ahli untuk menyoroti bagaimana pengelolaan sumber daya menjadi kunci utama.
Pengelolaan yang tidak transparan dan tidak merata bisa menjadi akar persoalan."Negara terlena oleh aliran dan yang lebih besar dari eksport,tapi lalai menggunakannya untuk pembangunanjangka panjang," tutur Pengamat budaya,pariwisata dan ekonomi kreatif,Harry Waluyo Kepada rri,Selasa (13/5/2025)
Waluyo mengatakan,Nigeria,Venezuela dan Republik Demokratik Kongo adalah contoh negara yang kaya sumber daya berjuang melawan kemiskinan.Transparansi International International mencatat miliaran dolar dari sektor minyak Nigeria tidak jelas arahnya.Sementara itu.Venezuela mengalami krisis ekonomi parah akibat ketergantungan berlebih pada komoditas minyak.
Selain resiko korupsi,ketergantungan pada satu komoditas juga membuat ekonomi negara rapuh terhadap guncangan global.Feomena yang disebut sebagai Dutch Disease kerap terjadi,dimana penguatan sektor eksport menyebabkan sektor lain.seperti pertanian dan industri justru melemah.
Di Kongo,tambang kobait yang sangat dibutuhkan secara global justru memicu konflik antar kelompok.Alih alih mendatangkan kesejahteraan,masyarakat di wilayah tambang justru hidup dalam ketakutan.
Namun,tidak semua negara mengalami hal serupa,Norwegia merupakan contoh negara yang berhasil mengelola sumber dayanya secara berkelanjutan.Melalui lembaga independen seperti Goverment Pension Fund Globl.hasil minyak diinvestasikan untk masa depan.Hasilnya,tingkat kemiskinan Norwegia sangat rendah,dan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah tinggi.
Perbandingan data menunjukkan meski sama sama memilik ketergantungan ekspor yang tinggi Norwegia berhasil menekan angka kemiskinan hingga 1 % sementara Nigeria dan Kongo berada dikisaran 40-65%.
Menurut Waluyo,Kemiskinan di negara kaya sumber daya bukan sekadar persoalan ekonomi.Di banyak tempat,kemiskinan telah menjadi bagian dari budaya yang diwariskan secara turun temuru.Ketika akses,terhadap pendidikan layanan kesehata,dan partisipasi politik dibatasi,cenderung terjebak dalam siklus pasrah dan apatis.
Korupsi yang meluas dan lemahnya institusi publik semakin memperkuat ketimpangan.Sebaliknya,Norewegia menunjukkan bahwa kelembagaan yang kuat dan tata kelola yang insklusif dapat membawa perubahan nyata.
Untuk keluar dari permasalhan ini,beberapa langkah disarankan.meningkatkan transparansi lewat keikutsertaan dalam inisiatif seperti EITI,memperkuat institusi hukum.serta menegosiasi kontrak yang adil dengn perusahan asing.
Meski tantangan besar,perubahan tetap mungkin terjadi jika ada kemauan politik dan partisipasi publik yang kuat."Pengelolaan sumber daya alam harus dilihat sebagai peluang jangka panjang,bukan sekadar keuntungan sesaat.Tutup Waluyo.