Kelompok Tenun Awai Eras Fursui Lestarikan Motif Tanimbar

  • 21 Sep 2026 13:39 WIB
  •  Saumlaki

RRI.CO.ID, Saumlaki - Para pengrajin perempuan di Desa Fursui, Kepulauan Tanimbar, terus konsisten melestarikan warisan leluhur melalui pembuatan kain tenun tradisional. Tergabung dalam Kelompok Awai Eras, yang berarti kelompok yang baik—komunitas ini tidak hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga berhasil menggerakkan roda ekonomi warga setempat.

Salah satu pengrajin tenun asal Desa Fursui, Eti, mengungkapkan bahwa proses pembuatan satu lembar kain tenun membutuhkan ketekunan tinggi. Secara tradisional, para pengerajin memerlukan waktu rata-rata tiga hari untuk menyelesaikan satu potong kain.

"Proses pembuatan satu potong kain tenun bukanlah perkara mudah. Penenun membutuhkan waktu rata-rata tiga hari kerja keras untuk menyelesaikan satu lembar kain secara tradisional," ujar Eti.

Ketekunan tersebut menghasilkan beragam motif yang sarat akan nilai filosofis. Desa Fursui sendiri mempopulerkan satu motif khas lokal, yang berdampingan dengan motif ikonik khas wilayah Yamdena, seperti Abu-Abu Naik dan Tais Matan.

Meski tiap motif memiliki tingkat kerumitan dan karakteristik visual tersendiri, seluruh karya tenun Kelompok Awai Eras dijual dengan harga seragam, yakni Rp500.000 per potong. Harga ini dinilai sepadan dengan nilai seni dan proses pembuatannya.

Kualitas hasil tenunan kelompok ini telah diakui secara luas. Produk mereka selalu diminati pembeli untuk kebutuhan harian maupun prosesi adat. Bahkan, pangsa pasar mereka kini meluas ke ranah formal, dengan tingginya pemesanan dari instansi pemerintah hingga lembaga swasta untuk dijadikan seragam kerja maupun cendramata khas daerah.

Melalui ketekunan menenun, Kelompok Awai Eras terbukti tidak hanya membangkitkan ekonomi keluarga, tetapi juga memastikan kelestarian kekayaan budaya tenun Tanimbar lintas generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....