Lestarikan alam Tanimbar lewat tradisi sasi

  • 13 Feb 2026 17:33 WIB
  •  Saumlaki

RRI.CO.ID, Saumlaki- Pelestarian alam berbasis kearifan lokal tetap menjadi napas hidup masyarakat Kepulauan Tanimbar. Hal ini ditegaskan oleh Simon, salah satu warga Tanimbar, dalam acara budaya Seribu Pulau baru-baru ini. Ia menjelaskan bahwa tradisi Sasi bukan sekadar aturan adat, melainkan cara cerdas leluhur dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Menurut Simon, Sasi hasil laut sangat penting untuk mencegah pengambilan kekayaan alam yang berlebihan. Dengan adanya aturan ini, biota laut seperti teripang, lola, hingga terumbu karang memiliki waktu untuk berkembang biak tanpa gangguan manusia.

"Sasi dilakukan dengan memberikan tanda pada titik tertentu yang menjadi patok bahwa wilayah tersebut tidak boleh diganggu. Biasanya kami menandainya dengan janur kelapa sebagai simbol hukum adat yang berlaku," ujar Bapak Simon dalam acara budaya seribu pulau.

Hal yang paling menarik dari tradisi ini adalah waktu pembukaannya yang telah diperhitungkan dengan matang. Simon menambahkan bahwa Sasi biasanya baru akan dibuka pada saat-saat krusial, seperti memasuki semester baru sekolah atau menjelang hari raya besar seperti Natal dan Tahun Baru.

Pemilihan waktu ini memiliki fungsi sosial dan ekonomi yang sangat membantu masyarakat. Hasil laut yang melimpah setelah masa Sasi dapat dijual untuk membantu orang tua membiayai kebutuhan pendidikan anak-anak yang baru masuk sekolah, atau untuk memenuhi kebutuhan perayaan hari besar keagamaan.

Melalui tradisi Sasi, masyarakat Kepulauan Tanimbar membuktikan bahwa menjaga alam secara disiplin akan membuahkan hasil yang manis bagi kesejahteraan keluarga. Tradisi ini menjadi bukti nyata bahwa hukum adat dan keberlangsungan ekonomi dapat berjalan beriringan demi masa depan generasi Tanimbar yang lebih baik.

Rekomendasi Berita