Ini Risiko Membuka Lahan dengan Cara Bakar

  • 24 Sep 2026 22:12 WIB
  •  Sanggau

RRI.CO.ID, Sanggau - Pembukaan lahan dengan cara dibakar masih menjadi salah satu praktik yang dilakukan dalam kegiatan pertanian tradisional. Praktik tersebut memiliki risiko terhadap kondisi lahan, termasuk berkaitan dengan tingkat kesuburan tanah yang dapat berubah setelah proses pembakaran dilakukan.

Hal tersebut disampaikan oleh Syamhudi, Ketua Kreasi Sungai Putat dalam Dialog Sanggau Menyapa RRI PRO1 Sanggau, Kamis 24 September 2026. Menurutnya, pembukaan lahan dengan cara dibakar tetap memiliki risiko meskipun dalam skala yang relatif kecil, salah satunya terhadap tingkat kesuburan tanah yang hanya dapat bertahan sekitar satu hingga dua tahun.

"Kalau berbicara risiko tentu ada risiko ya walaupun kecil, misalnya begini lahan yang terbakar itu atau membuka lahan dengan cara dibakar itu tingkat kesuburannya itu hanya satu sampai dengan dua tahun," jelasnya.

Syamhudi menjelaskan, pembukaan lahan dengan cara dibakar memberikan manfaat tertentu bagi tanah karena sisa pembakaran berupa abu dapat menjadi sumber mineral yang dibutuhkan tanaman. Namun, proses tersebut juga memiliki dampak lain karena pembakaran dapat menyebabkan tanah kehilangan sejumlah nutrisi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

"Karena memang ada keuntungan disitu sisa pohon yang terbakar itu menjadi abu dan itu menjadi mineral yang dibutuhkan oleh tanaman namun ada risiko lainnya dia kehilangan nutrisi yang lainnya, kan gitu," katanya.

Menurutnya, praktik pembakaran lahan yang dilakukan masyarakat peladang tidak dapat disamakan dengan tindakan yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan. Hal tersebut karena masyarakat peladang memiliki pengetahuan serta kearifan lokal yang diterapkan secara turun-temurun dalam mengelola dan membuka lahan pertanian.

"Tapi dalam konteks kebakaran hutan yang dimaksud karhutla, kawan-kawan peladang ini ndak bisa di samakan dengan pelaku-pelaku karhutla itu karena memang masyarakat peladang ini merka punya ilmunya, punya kearifan lokal," jelasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....