Perpustakaan Tetap Diperlukan untuk Penguatan Literasi Siswa
- 14 Sep 2026 15:38 WIB
- Sanggau
RRI.CO.ID, Sanggau - Perkembangan teknologi digital membuat akses terhadap informasi semakin mudah, termasuk bagi pelajar, namun, kehadiran gawai dan berbagai platform digital tidak serta-merta menghilangkan minat siswa untuk mengunjungi perpustakaan. Di tengah pelaksanaan Belajar Dari Rumah atau BDR, perpustakaan tetap menjadi salah satu sarana pendukung literasi dan pembelajaran siswa.
Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Sanggau, Syaparani mengatakan, aktivitas pembelajaran tetap berjalan meskipun siswa melaksanakan BDR. Pihak sekolah dan guru tetap hadir sesuai jam sekolah serta menjalankan tugas pembelajaran, mulai dari pertemuan secara daring melalui Zoom Meeting hingga pemberian tugas harian kepada siswa.
“Walaupun saat ini pelaksanaan BDR, kami tetap menjalankan tugas seperti biasa, guru hadir sesuai jam sekolah, memberikan pembelajaran secara online, tugas harian, dan tetap memantau keaktifan anak-anak selama proses belajar,” ungkap Syaparani dalam Dialog RRI Sanggau Menyapa, Senin 14 September 2026.
Ia menjelaskan, pihak sekolah juga telah meminta izin kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau untuk melakukan pemantauan terhadap siswa kelas tujuh, delapan dan sembilan selama pelaksanaan BDR. Menurutnya, pemantauan tersebut penting untuk melihat keaktifan siswa sekaligus memastikan proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik.
Syaparani menyampaikan, tren kunjungan siswa ke perpustakaan hingga saat ini masih terlihat, keberadaan perpustakaan dinilai tetap penting karena sekolah terus mendorong kegiatan literasi dan numerasi yang menjadi bagian dari penilaian dalam mutu rapor pendidikan. Berbagai kegiatan sekolah juga terus direkap sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan.
Menurutnya, membaca melalui buku secara langsung memberikan pengalaman berbeda dibandingkan menggunakan gawai. Saat membaca buku, siswa dinilai dapat lebih fokus mempelajari isi bacaan, sedangkan penggunaan gawai memiliki potensi membuat perhatian siswa teralihkan dengan membuka aplikasi lain di luar kebutuhan pembelajaran.
“Lewat buku, anak-anak bisa lebih fokus mempelajari isi dan memahami bacaan, berbeda ketika menggunakan gawai, mereka bisa saja tergoda membuka aplikasi lain, sehingga fokus belajarnya menjadi berkurang,” jelasnya.
Syaparani mengatakan, penggunaan gawai di lingkungan sekolah juga telah diatur melalui tata tertib satuan pendidikan ramah anak. Dalam Pasal 3 Ayat 5, murid diperbolehkan membawa telepon seluler hanya saat kegiatan belajar mengajar atas izin guru dan digunakan sebagai media pembelajaran, gawai juga dititipkan kepada guru sebelum dan sesudah kegiatan berlangsung, sedangkan penggunaan tanpa kegiatan resmi tidak diperbolehkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....